Tutup
Regulasi

Saham LQ45: Peluang Bangkit di 2026? Analisis dan Prediksi

252
×

Saham LQ45: Peluang Bangkit di 2026? Analisis dan Prediksi

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kinerja indeks LQ45 sepanjang tahun 2025 kurang menggembirakan, hanya mencatatkan kenaikan tipis 2,41% secara year-to-date (ytd).

Padahal, indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar ini menjadi acuan penting bagi para fund manager, baik global maupun domestik.

Capaian LQ45 ini jauh tertinggal dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat 22,13% pada periode yang sama.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa lambatnya pertumbuhan LQ45 ini mencerminkan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Faktor-faktor global seperti suku bunga yang tinggi dalam waktu lama, ketidakpastian geopolitik, dan aliran dana asing yang cenderung defensif menjadi penyebab utama.

Dari dalam negeri, pertumbuhan kredit yang belum optimal dan valuasi saham yang sudah premium turut membatasi potensi kenaikan.

Namun, Sukarno melihat prospek LQ45 di tahun 2026 masih terbuka, asalkan pertumbuhan ekonomi sesuai harapan dan aktivitas industri membaik.

“Katalis utama datang dari tren penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong kredit dan memicu *rerating* saham *big caps*, khususnya perbankan yang sebelumnya menjadi pemberat,” ujarnya.

Meski begitu, risiko eskalasi geopolitik global dan volatilitas pasar keuangan tetap menjadi perhatian, karena dapat menahan arus dana asing.

Saham-saham dengan fundamental solid, seperti perbankan (BBCA, BMRI) yang diuntungkan pemulihan kredit, konsumsi defensif (ICBP, INDF) yang stabil, serta emiten energi dan ritel modern (ADRO, AMMN, AMRT) berpotensi menjadi penopang kinerja LQ45 jika siklus ekonomi dan harga komoditas mendukung.

Strategi yang disarankan adalah akumulasi selektif pada saham LQ45 yang tertinggal namun memiliki fundamental kuat, dengan fokus pada sektor perbankan dan konsumsi.

Sementara itu, saham-saham berisiko tinggi seperti sektor teknologi sebaiknya diperlakukan sebagai *trading* jangka pendek, sambil menunggu perbaikan kinerja.