Tutup
Regulasi

Saham LQ45: Prospek 2026, Analisis, dan Rekomendasi Terbaru

404
×

Saham LQ45: Prospek 2026, Analisis, dan Rekomendasi Terbaru

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kinerja Indeks LQ45 pada tahun 2025 kurang menggembirakan, hanya tumbuh 2,41% *year-to-date* (ytd), jauh di bawah performa IHSG yang melesat 22,13%.

Indeks yang menjadi acuan utama *fund manager* ini tertekan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 52,42 triliun.

Analis Fundamental BRI Danareksa Abida Massi Armand mengatakan, ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama kenaikan suku bunga Bank of Japan, turut memicu kekhawatiran pembalikan aktivitas *carry trade*.

Saham-saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi pemberat utama indeks.

Selain itu, ACES terkoreksi akibat penurunan pertumbuhan penjualan, sementara emiten ritel, konsumer, dan tambang seperti AMRT, MAPA, ICBP, dan AMMN menghadapi tantangan operasional serta fluktuasi harga komoditas.

Namun, kondisi ini justru menciptakan valuasi yang lebih menarik bagi investor untuk mengakumulasi saham sebelum memasuki fase pemulihan.

Prospek Cerah di Tahun 2026

Abida memproyeksikan prospek saham LQ45 di tahun 2026 sangat positif, dengan target IHSG menembus level 10.000.

Optimisme ini didorong oleh fundamental ekonomi nasional yang solid, ekspektasi penurunan suku bunga acuan, serta stimulus fiskal dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan menggerakkan sektor riil.

Sentimen negatif yang perlu diwaspadai adalah risiko ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat dan normalisasi lanjutan suku bunga Jepang.

Saham Penggerak Indeks

Sektor perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diperkirakan akan kembali menjadi penggerak indeks, didukung oleh pemulihan aliran modal asing dan kebijakan dividen yang kuat.

Sektor konsumer dan peternakan, melalui emiten seperti ICBP, INDF, CPIN, dan JPFA, diprediksi menjadi penopang utama berkat lonjakan permintaan dari Program MBG serta potensi penguatan margin keuntungan akibat melandainya harga bahan baku.

ASII juga diperkirakan akan menyokong indeks seiring dengan peningkatan penetrasi kendaraan listrik dan diversifikasi bisnis ke sektor mineral dan kesehatan.

Abida merekomendasikan *buy* pada saham BBCA dengan target harga Rp 10.800, BMRI pada target Rp 5.500, ASII dengan target Rp 7.450, dan TLKM yang diproyeksikan mencapai Rp 4.000.