Tutup
NewsPendidikan

Sekolah Bangun Emosi, Siswa Belajar Lebih Baik, Berkembang

125
×

Sekolah Bangun Emosi, Siswa Belajar Lebih Baik, Berkembang

Sebarkan artikel ini
industri-pendidikan-dinilai-perlu-kedepankan-kesejahteraan-emosional-murid
Industri Pendidikan Dinilai Perlu Kedepankan Kesejahteraan Emosional Murid

Jakarta – Industri pendidikan, terutama sekolah swasta, masih bergulat dengan tantangan besar: membangun kesejahteraan emosional siswa.

Pendekatan ini menjadi fondasi bagi sekolah yang ingin menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik dan bermakna.

North Jakarta Intercultural School (NJIS) menjadikan kesejahteraan emosional sebagai kunci utama dalam proses pembelajaran.

Ezra Alexander, Head of School NJIS, menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna tak bisa dipisahkan dari kondisi emosional siswa.

“Kami melihat belajar lebih dari sekadar pencapaian akademik. Ini tentang pengalaman hidup anak di sekolah,” ujar Ezra,Selasa (27/1/2026).

Menurut Ezra, kurikulum memegang peranan penting dalam membentuk pengalaman belajar siswa.NJIS memilih Kurikulum international Baccalaureate (IB) yang dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi dan rasa aman emosional.

“Kurikulum kami memberi ruang bagi anak untuk merasa aman berkata ‘aku belum bisa’,lalu percaya diri mencoba lagi. Di situlah pembelajaran sesungguhnya terjadi,” jelas Ezra.

Sekolah,menurutnya,harus menjadi ruang aman yang menghargai proses,tidak memberi stigma pada kesalahan,dan tidak hanya memuja capaian akademik.

Masa depan pendidikan harus menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh.”Pendidikan ke depan harus seimbang, menyelaraskan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Psikolog anak, Anastasia Satriyo, M.Psi, sependapat dengan pandangan ini.

Di tengah tuntutan akademik yang tinggi, sekolah dan orang tua sering berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian.

Namun, rasa aman dan kenyamanan emosional anak seringkali terabaikan.

“otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional. Situasi emosional ini menjadi kunci mengapa banyak anak sulit fokus, cemas, atau kehilangan minat belajar,” kata Anastasia.

Rasa aman berarti anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti, sehingga otaknya siap untuk belajar.

Pada fase ini,bagian otak yang berperan dalam berpikir,memahami,dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik.

Anak menjadi lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.