Tutup
Bursa SahamEkonomiNews

Sentimen AI dan Geopolitik Pacu Bursa Asia

125
×

Sentimen AI dan Geopolitik Pacu Bursa Asia

Sebarkan artikel ini
bursa-asia-melonjak-tajam-ikuti-reli-wall-street,-sentimen-ai-dan-geopolitik-gerakkan-pasar-global
Bursa Asia Melonjak Tajam Ikuti Reli Wall Street, Sentimen AI dan Geopolitik Gerakkan Pasar Global

Jakarta – Bursa saham Asia-Pasifik dibuka dengan catatan positif pada Rabu (25/2/2026), mengikuti jejak Wall Street yang juga menguat.

Sentimen positif ini didorong oleh meredanya kekhawatiran investor terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor.

Indeks acuan korea Selatan, Kospi, memimpin penguatan di Asia dengan melonjak 1,11 persen, menembus level 6.000 untuk pertama kalinya.

Kinerja positif ini didukung oleh penguatan saham-saham unggulan seperti SK Hynix (naik 0,6 persen) dan Samsung Electronics (naik 0,88 persen).

Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga melonjak lebih dari 1 persen ke level tertinggi baru, sementara indeks Topix mengalami kenaikan tipis.

Australia mencatatkan penguatan pada indeks S&P/ASX 200 sebesar 0,9 persen.

Indeks Hang Seng Hong Kong juga mengalami kenaikan, berada di posisi 26.763 dari 26.590,32.

Sebelumnya, bursa AS juga mencatatkan hasil positif, dengan indeks S&P 500 naik 0,77 persen, nasdaq Composite menguat 1,04 persen, dan Dow Jones Industrial average naik 0,76 persen.

Penguatan saham Home Depot menjadi pendorong utama indeks Dow Jones, setelah melaporkan pendapatan yang melampaui ekspektasi pasar.

sementara itu,di dalam negeri,IHSG dibuka menguat 37 poin atau 0,45 persen di level 8.318 pada pembukaan perdagangan Rabu.

Namun, analis memprediksi bahwa IHSG berpotensi mengalami koreksi lanjutan.

Analis dari BMI sebelumnya melaporkan bahwa AI menjadi sumber gejolak pasar, meskipun ketegangan geopolitik juga turut memengaruhi dinamika pasar.

laporan tersebut juga menyoroti bahwa ekonomi global menunjukkan tanda-tanda penguatan berkat dukungan kebijakan fiskal dan moneter.

“Kami memperkirakan probabilitas 50 persen untuk serangan militer pimpinan AS terhadap Iran, yang dapat meningkatkan premi risiko harga minyak dan memperkuat dolar AS,” ujar analis BMI, seperti dikutip dari CNBC Internasional.