Jakarta – Bursa saham Asia Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (21/11/2025). Indeks-indeks utama di kawasan ini tertekan oleh koreksi tajam saham SoftBank yang mencapai lebih dari 10 persen.
Pemicunya adalah anjloknya saham SoftBank, mengikuti tren negatif saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS).
Sentimen negatif juga datang dari pudarnya harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS,Federal Reserve (The Fed),pada pertemuan Desember 2025.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan menimbulkan keraguan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Menurut CME FedWatch Tool, investor kini hanya memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan depan sekitar 40 persen.
Saham-saham emiten kecerdasan buatan (AI) seperti Oracle dan Advanced Micro Devices Inc juga mengalami penurunan signifikan.
Saham produsen chip Nvidia, milik Jensen Huang, ditutup turun hampir 3 persen.
Di bursa Jepang,saham-saham teknologi juga mengalami penurunan. Saham Advantest anjlok 9 persen, saham Tokyo Electron tergerus hampir 6 persen, saham Lasertec kehilangan sekitar 5 persen, dan saham Renesas Electron terkoreksi 1,95 persen.
Kondisi serupa terjadi di bursa Korea Selatan. Saham-saham unggulan seperti samsung Electronics dan SK Hynix mencatat koreksi masing-masing 4 persen dan 9 persen.
Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, merosot 1,57 persen, sementara indeks Topix melemah 0,72 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi kehilangan 4,09 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil menyusut 3,01 persen.
Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,3 persen. Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 25.460 dari 25.835,57.
Di Wall Street semalam, Nasdaq Composite turun 2,16 persen setelah sebelumnya naik 2,6 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,84 persen, sedangkan indeks S&P 500 merosot 1,56 persen.
Sementara itu, hingga pukul 09.02 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 16.745 per dolar AS, melemah 37 poin atau 0,22 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.708 per dolar AS.







