Padang – Meski Pemilihan Gubernur Sumatera Barat baru akan digelar pada 2030, wacana mengenai siapa yang akan menggantikan Mahyeldi mulai ramai diperbincangkan.
Sejumlah nama mencuat ke publik, sebagian besar berasal dari kalangan kepala daerah, legislatif, hingga tokoh muda partai.
Para figur ini memiliki rekam jejak politik dan basis elektoral yang beragam. Dari penelusuran tim Sumbarbisnis.com terdapat sejumlah nama yang mencuat.
Nama-nama yang kini diperhitungkan antara lain Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy, Anggota DPR RI Andre Rosiade (Gerindra), Anggota DPR RI Rahmat Saleh (PKS), Ketua DPRD Sumbar Muhidi (PKS), Anggota DPR RI Arisal Aziz (PAN), serta Wali Kota Padang Fadly Amran.
Vasko Ruseimy
Vasko Ruseimy saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumbar periode 2025–2030.
Latar belakangnya sebagai pengusaha, aktivis HIPMI, sekaligus konten kreator politik menjadikannya sosok berbeda dibanding figur lain.
Dengan basis pemilih muda yang besar, Vasko dipandang dapat mengisi ruang politik baru.
Sebagai kader Gerindra, ia juga punya akses langsung ke struktur partai yang menjadi salah satu kekuatan besar di Sumbar.
Tantangannya adalah membuktikan kapasitas kepemimpinan di eksekutif, mengingat ia baru satu periode mendampingi gubernur.
Andre Rosiade
Nama Andre Rosiade sudah lama dikenal di politik Sumbar. Sebagai Ketua DPD Gerindra Sumbar dan anggota DPR RI sejak 2019, ia berhasil menempatkan dirinya sebagai tokoh vokal di tingkat nasional.
Andre juga dikenal sebagai sosok yang rajin turun ke daerah pemilihan, memberikan bantuan langsung, dan membangun citra kedekatan dengan masyarakat.
Popularitasnya relatif tinggi, namun ia akan berhadapan dengan tantangan membangun koalisi lebih luas di luar basis tradisional Gerindra.
Rahmat Saleh
Rahmat Saleh, anggota DPR RI dari Fraksi PKS, menanjak cepat dalam karier politik. Pernah menjadi anggota DPRD Sumbar dua periode, kini ia juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS (2025–2030).
Rahmat dikenal aktif sebagai mubalig dan tokoh muda PKS yang memiliki basis kader loyal. Potensinya terletak pada soliditas internal partai.
Namun, untuk bertarung di level provinsi, ia perlu memperluas popularitas di luar lingkaran kader PKS.
Muhidi
Sebagai Ketua DPRD Sumbar periode 2024–2029, Muhidi berada pada posisi strategis di politik daerah.
Rekam jejaknya dimulai dari DPRD Kota Padang hingga memimpin legislatif provinsi.
Modal politiknya adalah pengalaman panjang di legislatif dan kedekatan dengan akar rumput melalui partai.
Namun, sebagai figur non-eksekutif, ia masih perlu membangun pengaruh publik yang lebih luas agar bersaing dengan nama-nama dari eksekutif.
Arisal Aziz
Arisal Aziz merupakan politisi dari PAN yang baru terpilih ke DPR RI periode 2024–2029. Ia dikenal sebagai figur dengan pendekatan modern, aktif menggunakan kanal digital untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.
Sebagai pendatang baru di politik nasional, Arisal punya peluang menarik suara pemilih muda dan segmen masyarakat urban. Tantangan utamanya adalah keterbatasan pengalaman eksekutif dan perlu membangun branding politik lebih kokoh di Sumbar.
Fadly Amran
Fadly Amran kini menjabat sebagai Wali Kota Padang periode 2025–2030 setelah sebelumnya sukses memimpin Padang Panjang.
Latar belakang pendidikannya di Amerika Serikat dan kiprahnya dalam modernisasi tata kelola pemerintahan membuatnya dilihat sebagai figur progresif.
Dengan basis dukungan kuat di dua kota penting, Fadly dipandang punya modal elektoral besar.
Ia rajin turun ke masyarakat dan dikenal responsif terhadap isu warga.
Tantangannya adalah memperluas pengaruh hingga ke wilayah pedesaan yang masih menjadi mayoritas pemilih Sumbar.
Persaingan Menuju 2030
Enam nama ini merepresentasikan kombinasi generasi muda, figur legislatif nasional, dan kepala daerah dengan rekam jejak eksekutif.
Persaingan menuju 2030 kemungkinan akan ditentukan oleh tiga faktor utama: dukungan partai politik, kemampuan membangun jejaring lintas daerah, serta daya tarik di kalangan pemilih muda yang jumlahnya terus meningkat.
Dengan waktu lima tahun ke depan, peta politik Sumbar masih bisa berubah.
Namun, keenam nama tersebut telah mengisi perbincangan publik sebagai kandidat potensial pengganti Mahyeldi di kursi Gubernur Sumbar 2030.







