Jakarta – kelas menengah Indonesia terindikasi semakin rentan terhadap masalah keuangan akibat gaya hidup konsumtif yang berlebihan. Lebih dari separuh pendapatan mereka habis untuk konsumsi simbolik demi menjaga citra sosial.
Laporan Nielsen Lifestyle Consumer Report pada Senin (4/8/2025) mengungkapkan, alokasi dana untuk hal-hal yang bersifat simbolis mendominasi pengeluaran kelompok kelas menengah.Konsumsi simbolik ini mencakup penggantian ponsel, nongkrong di kafe, pembelian fesyen, hingga liburan. Fenomena ini dikenal sebagai “fake rich,” di mana seseorang terlihat kaya secara sosial, namun kondisi keuangan sebenarnya rapuh.
Data Nielsen menunjukkan, lebih dari 50% gaji kelas menengah digunakan untuk konsumsi simbolik. Pengeluaran besar terjadi pada barang-barang yang mencerminkan status sosial, seperti gadget, fesyen bermerek, nongkrong, dan staycation di hotel. Alih-alih memperkuat keuangan jangka panjang, banyak yang terjebak dalam siklus belanja impulsif demi pengakuan sosial.
Kebiasaan menabung dan investasi sering dikesampingkan. survei menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil kelas menengah memiliki dana darurat yang mencukupi untuk 3-6 bulan pengeluaran. investasi juga belum menjadi prioritas, terutama bagi mereka yang berpenghasilan Rp5-10 juta per bulan.
Fenomena “fake rich” membuat banyak orang tampak sejahtera dari luar, tetapi sering kehabisan uang sebelum akhir bulan. Keputusan konsumtif yang berulang menjebak mereka dalam siklus “gali lubang tutup lubang.” Di sisi lain, kelompok ini menjadi penopang konsumsi nasional, meskipun kondisi keuangannya sendiri tidak sehat.
Survei Inventure pada 2024 menunjukkan bahwa 49% kelas menengah melaporkan penurunan daya beli. Namun, pengeluaran untuk gaya hidup tetap tinggi. Tekanan sosial untuk “tetap terlihat mampu” masih sangat kuat, meskipun kondisi ekonomi pribadi mulai goyah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Mandiri Institute pada 2023 menunjukkan bahwa 0,25% rumah tangga pengguna pinjaman online (pinjol) berasal dari kelas menengah. Sementara itu, rumah tangga yang termasuk dalam kategori menuju kelas menengah mencatatkan proporsi 0,21% dari total pengguna pinjol.
Laporan Asian Progress Bank (ADB) tahun 2020 berjudul “The Rise of Asia’s middle Class” mengungkap bahwa 58% kelas menengah di Indonesia sebenarnya sangat rentan secara ekonomi. Kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa ilusi kemapanan bisa runtuh dalam semalam akibat sakit berat, PHK, atau gagal membayar cicilan.







