Tutup
InvestasiNews

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Melorot: Simak Analisis Mengejutkannya

732
×

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Melorot: Simak Analisis Mengejutkannya

Sebarkan artikel ini
suku-bunga-turun,-harga-bitcoin-melorot:-simak-analisis-mengejutkannya
Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Melorot: Simak Analisis Mengejutkannya

Jakarta – Harga Bitcoin bergejolak meski suku bunga acuan AS telah dipangkas. Investor disarankan waspada.

Sempat melonjak ke US$117.700 (Rp1,9 miliar), Bitcoin kemudian anjlok ke US$111.500 (Rp1,8 miliar).

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyebut aksi profit taking sebagai penyebabnya. Pasar kripto telah mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed.

“Likuiditas jangka pendek sempat mengalir deras ke aset risk-on, termasuk Bitcoin dan altcoin,” kata Fahmi, Jumat (26/9/2025).

Pelemahan ekonomi AS, termasuk sektor tenaga kerja, menjadi alasan The Fed menurunkan suku bunga. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi.

Data menunjukkan The Fed belum agresif menambah likuiditas meski suku bunga sudah dipangkas.

Total aset The Fed per 17 September 2025 tercatat US$6,6 triliun (Rp110.500 triliun), masih jauh di bawah puncak pandemi Covid-19.

Proses quantitative tightening (QT) masih berjalan, meski melambat.Pasar menilai penurunan suku bunga saja belum cukup.

Fahmi menilai kondisi ini cukup mendukung proyeksi positif Bitcoin dan pasar kripto di sisa tahun ini.

Akumulasi investor institusi yang solid dan potensi adopsi ETF altcoin berpeluang mendorong Bitcoin dan Ethereum mencetak rekor baru.

“Namun, skenario downside tetap ada seperti shutdown pemerintah AS yang dapat memicu tekanan arus kas jangka pendek,” jelas fahmi.

Lonjakan inflasi atau penguatan dolar AS juga dapat memicu sentimen negatif dengan risiko koreksi Bitcoin ke bawah US$100 ribu (Rp1,6 miliar).

Bagi investor di Indonesia, penurunan suku bunga The Fed membuka peluang diversifikasi ke aset risk-on.

Namun, volatilitas tinggi Bitcoin tetap menjadi perhatian utama.

Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai lebih strategis dibanding investasi sekaligus dalam jumlah besar.

Investor perlu memantau harga Bitcoin, indikator likuiditas dolar AS, dan arus dana institusional.

Fahmi merekomendasikan fitur Packs di Reku yang memungkinkan investasi pada crypto blue chip dan ETF saham AS.

“Fitur Packs dilengkapi sistem Rebalancing akan membantu investor menyesuaikan alokasi investasinya sesuai kondisi pasar secara otomatis,” pungkasnya.