Tutup
News

Tamiang Bangkit: Negara Pulihkan Peradaban Melayu dari Lumpur

149
×

Tamiang Bangkit: Negara Pulihkan Peradaban Melayu dari Lumpur

Sebarkan artikel ini
tamiang,-awal-peradaban-melayu-yang-lenyap-oleh-lumpur,-optimis-bangkit
Tamiang, Awal Peradaban Melayu yang Lenyap oleh Lumpur, Optimis Bangkit

tamiang – Lebih dari sebulan pasca banjir bandang menerjang Aceh Tamiang, pemulihan terus dikebut. Puing dan lumpur tebal masih menyelimuti wilayah tersebut.

Negara, masyarakat, dan relawan bersatu padu merehabilitasi kota di tepi sungai ini.Mereka berupaya mengembalikan kejayaan peradaban Tamiang.

Puluhan alat berat dan ribuan relawan dari berbagai instansi dikerahkan ke Tamiang. Tujuannya, memulihkan luka dan nestapa akibat banjir.

“awalnya terasa Tamiang dibiarkan bangkit sendiri, tapi kini kami tahu negara dan bangsa Indonesia tidak akan membiarkan tamiang berjuang sendirian,” ujar Wulandari, seorang guru SDIT, Minggu (28/12/2025).

Khairian, pemerhati bencana banjir Aceh Tamiang, mengatakan perubahan signifikan terjadi sejak kunjungan Presiden dan sinergi BUMN. Sinergi ini dilakukan dalam tanggap darurat dan masa transisi.

“Kemajuan pesat terlihat, termasuk pembangunan hunian sementara di dekat masjid darussalam oleh BUMN Karya, Himabara, Pertamina, dan PLN,” ungkap Rian.

Tamiang, yang terletak di timur Aceh sepanjang aliran Sungai tamiang, merupakan saksi bisu peradaban Melayu tertua di Sumatra.

Jauh sebelum peta politik modern terbentuk, Tamiang telah menjadi pusat perdagangan, budaya, dan keyakinan.

Namun, seperti peradaban besar lainnya, jejaknya kini terkubur oleh lumpur dan waktu. Terutama setelah banjir dahsyat pada 25 November 2025.

Presiden RI Prabowo Subianto telah dua kali mengunjungi Tamiang dan berencana untuk datang kembali. Ini menunjukkan komitmen untuk mempercepat pemulihan wilayah ini.

Semua sumber daya negara dikerahkan untuk memulihkan peradaban dan kehidupan di Tamiang.

Sungai Tamiang, yang pada abad ke-7 Masehi telah melahirkan peradaban, bukan sekadar aliran air, melainkan nadi kehidupan.

Di tepian sungai inilah perkampungan Melayu awal tumbuh, perahu dagang bersandar, dan bahasa Melayu purba diperdagangkan bersama rempah, kapur barus, dan hasil hutan.

Jalur air ini menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Malaka, menjadikan Tamiang pintu masuk dunia luar.

Sumber literasi kuno menyebutkan wilayah pesisir timur Sumatra ini makmur dan teratur. Sejarawan menduga, salah satunya adalah Tamiang, kerajaan Melayu tua yang telah eksis sejak abad ke-7 Masehi.

Herdian, seorang pemuda penggiat sejarah di Tamiang, mengatakan lumpur bukan sekadar bencana, melainkan arsip alam yang menyimpan sisa tiang rumah, jalur pelabuhan kuno, hingga artefak yang belum terungkap.

“Peradaban yang tertimbun lumpur tanpa penggalian serius akan menjadi penutup sejarah,” ujarnya.

Tamiang menempati posisi unik dalam sejarah Islam Nusantara, di mana Islam datang lebih awal dan menyatu dengan adat melayu.

“tapak Islam awal ini hidup secara turun temurun di sistem adat, bahasa, hukum keluarga, dan struktur kepemimpinan lokal, meski fisik kerajaannya menghilang,” kata Herdian.

Perubahan alur sungai, pendangkalan, dan perpindahan pusat ekonomi membuat Tamiang kehilangan perannya. Ketika Kesultanan Aceh Darussalam menguat dan kolonialisme datang, Tamiang menjadi daerah pinggiran.

Meski peradabannya tak lagi tampak, identitas Melayu Tamiang tetap hidup dalam bahasa sehari-hari, adat istiadat, pantun, petuah, hukum adat, dan Islam yang berakar kuat.

“Tamiang boleh saja kehilangan istana dan prasasti, tetapi tidak kehilangan jiwanya,” ujar Rian, alumni Universitas Sumatra Utara.

Tamiang, sebagai kabupaten terparah yang dihantam banjir bandang di aceh, menyimpan cerita lama yang belum selesai ditulis.

“Tanpa riset arkeologi, dokumentasi sejarah, dan kesadaran kolektif, peradaban Melayu awal ini akan terus terkubur, bukan hanya oleh lumpur, tetapi oleh lupa,” ujarnya.

Tamiang adalah pengingat bahwa tidak semua peradaban runtuh oleh perang. Bencana alam juga menjadi penyebab hilangnya peradaban secara perlahan ditelan lumpur, air, dan waktu.

“Tapi selama cerita masih dituturkan, sejarah belum benar-benar mati,” ujar seorang tetua kampung Tamiang.