Jakarta – Badan Intelijen Rusia (FSB) mengungkap bahwa angkatan bersenjata dan badan mata-mata Ukraina dengan cepat memanfaatkan informasi yang beredar di Telegram. Data tersebut kemudian digunakan untuk melancarkan serangan ke moskow.
FSB menyebut informasi yang diposting di Telegram dapat diakses dan diproses pasukan Ukraina dalam waktu singkat. Hal ini memungkinkan mereka mengidentifikasi posisi, pergerakan, dan detail operasi militer Rusia.
Pernyataan resmi FSB menyebut temuan ini didasarkan pada “informasi yang dapat diandalkan” yang dikumpulkan selama pemantauan di zona konflik.
FSB menilai kebocoran informasi ini mengancam keselamatan tentara Rusia. Mereka menekankan bahaya berbagi informasi sensitif melalui saluran digital terbuka selama operasi tempur.
FSB juga menemukan bahwa agen intelijen Kiev memanfaatkan celah hukum untuk membuat identitas palsu dan menyebarkan disinformasi.Mereka juga menggunakan SIM-box, perangkat dengan puluhan kartu SIM, untuk penipuan dan kejahatan siber.
Pada 2025, lebih dari 50 ribu kartu SIM yang terdaftar atas identitas palsu telah disita.FSB menjelaskan, sejak eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022, badan intelijen Kiev menggunakan Telegram dan WhatsApp untuk merekrut agen lapangan guna melakukan serangan di Rusia.Sejak Agustus tahun lalu, Badan Pengawas Media Rusia Roskomnadzor memblokir sebagian panggilan suara di Telegram dan WhatsApp. namun, obrolan teks, berbagi file, dan fitur lainnya tetap tersedia di Telegram. WhatsApp sendiri sepenuhnya diblokir di Rusia.
“Fungsi yang dibatasi akan dipulihkan sepenuhnya jika platform tersebut mematuhi hukum Rusia,” demikian keterangan resmi Roskomnadzor.







