Tutup
Bursa SahamEkonomiInvestasiNews

Trump Menunda Serangan, Harga Minyak Berfluktuasi, Bursa Bereaksi

182
×

Trump Menunda Serangan, Harga Minyak Berfluktuasi, Bursa Bereaksi

Sebarkan artikel ini
harga-minyak-dunia-langsung-anjlok-usai-trump-tunda-serang-infrastuktur-energi-iran
Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok Usai Trump Tunda Serang Infrastuktur Energi Iran

Jakarta – Harga minyak dunia anjlok tajam pada Senin (23/3/2026), namun bursa saham justru menunjukkan sinyal pemulihan.

Pemicunya adalah keputusan mendadak mantan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Padahal, sebelumnya Trump memberikan tenggat waktu 48 jam. Namun, ia kemudian mengklaim ada pembicaraan “sangat baik” dengan Teheran.

Harga minyak mentah berjangka sempat terjun bebas lebih dari 14 persen setelah pernyataan Trump di platform Truth Social.

Meski demikian, kerugian berhasil dipangkas setelah Iran membantah adanya negosiasi.

Minyak Brent ditutup turun 10,9 persen ke level US$99,94 per barel. sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 10,3 persen menjadi US$88,13.

Sam Stovall dari CFRA Research menilai jeda lima hari yang ditetapkan Trump memberi peluang penguatan pasar saham dalam waktu dekat.

pasar Asia dan Eropa sebelumnya dibuka dengan tekanan. Namun, pernyataan terbaru Trump mendorong penguatan di bursa Eropa dan Amerika Serikat.

Penguatan sempat tertahan setelah media Iran membantah klaim trump dan melaporkan tidak ada pembicaraan antara teheran dan Washington.

Indeks FTSE 100 bahkan ditutup melemah akibat tekanan pada sektor energi dan pertahanan.

Indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones industrial Average ditutup menguat, masing-masing naik lebih dari satu persen.

“Sangat sulit untuk memperdagangkan pasar ini ketika Trump berayun antara eskalasi besar-besaran dan menyatakan perdamaian/kemenangan,” kata ahli strategi Saxo UK,Neil wilson.

“Tetapi pasar senang untuk saat ini karena kita tidak memasuki fase bahaya baru,” tambahnya.

Stovall menambahkan bahwa dalam situasi penuh ketidakpastian seperti sekarang, investor cenderung mengambil keputusan “berdasarkan asumsi daripada fakta.”

Direktur riset XTB, Kathleen Brooks, mengatakan bahwa jika pernyataan Trump benar-benar membuka jalan keluar konflik, “kita bisa melihat pergerakan kembali ke US$90 per barel untuk Brent dalam beberapa hari mendatang.”

Namun, ia mengingatkan bahwa harga minyak tidak akan segera kembali ke level sebelum konflik, yakni di bawah US$70 per barel.

Alasannya, perbaikan infrastruktur energi di kawasan Teluk membutuhkan waktu.

Sebelum pernyataan Trump, Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan potensi krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade.