Jakarta – Kebijakan baru Amerika Serikat (AS) yang menaikkan biaya visa kerja H-1B hingga US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar mulai berdampak pada industri teknologi global. Kenaikan ini paling terasa bagi pekerja IT asal India.
India selama ini menjadi negara penyumbang tenaga asing terbesar di sektor teknologi AS.
Perusahaan teknologi raksasa seperti amazon, Meta, Microsoft, dan Google kini mengubah strategi rekrutmen. Mereka lebih memilih mempertahankan pekerja asing yang sudah ada.
Langkah ini diambil untuk menghindari biaya tinggi merekrut tenaga kerja baru dari luar negeri.
Akibatnya, persetujuan visa H-1B baru bagi pekerja IT India mengalami penurunan tajam.
Data dari National Foundation for American Policy (NFAP) yang bersumber dari USCIS menunjukkan penurunan drastis ini.
Jumlah pengajuan visa H-1B baru hanya 4.573 pemohon, terendah dalam sepuluh tahun terakhir.
Angka ini anjlok 70 persen dari tahun 2015 dan turun 37 persen dibandingkan tahun 2024.
Dari seluruh perusahaan outsourcing India, hanya Tata Consultancy Services (TCS) yang masuk dalam lima besar pemberi kerja terbesar untuk pemegang visa H-1B di AS.
Namun, persetujuan awal TCS juga merosot signifikan dari 1.452 pada 2024 menjadi 846 pada 2025.
TCS melaporkan telah memperoleh 5.293 persetujuan untuk memperpanjang visa H-1B bagi tenaga kerja India yang sudah bekerja di AS.
Meski begitu, penolakan perpanjangan kontrak untuk karyawan yang mereka tangani meningkat dari 4 persen menjadi 7 persen.
TCS menjadi penyalur tenaga kerja asing dengan tingkat penolakan visa H-1B terendah dibandingkan perusahaan outsourcing lain di India.
Jumlah penolakan pengajuan oleh HCL america sebesar 6 persen, LTIMindtree sebesar 5 persen, dan Capgemini sebesar 4 persen.
Di sisi lain, sertifikasi tenaga kerja untuk kategori software engineer terus menurun selama empat tahun terakhir.
Data menunjukkan penurunan dari 40.378 sertifikasi pada tahun 2022 menjadi 23.922 pada kuartal III-2025.







