Jakarta – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), emiten pertambangan batu bara, berupaya keras mempertahankan kinerja di tengah tantangan industri yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026.
Perusahaan mencatatkan kenaikan produksi batu bara sebesar 1% menjadi 51,49 juta ton hingga kuartal III-2025.
Volume penjualan batu bara juga meningkat 2% menjadi 52,69 juta ton pada periode yang sama.
Namun, pendapatan AADI mengalami penurunan 11% menjadi US$ 3,61 miliar, dan laba bersih menyusut 44% menjadi US$ 655 juta.
Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan harga jual rata-rata (ASP) batu bara di pasar global.
Meskipun demikian, AADI telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 243 juta hingga kuartal III-2025. Dana ini digunakan untuk investasi pembangkit listrik di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, dan sarana pendukung rantai pasok.
Direktur Adaro Andalan Indonesia, Lie Luckman, mengakui adanya tekanan harga sejak awal tahun lalu akibat kelebihan pasokan dan penurunan permintaan musiman.
Namun, ia meyakini bahwa peluang pertumbuhan tetap terbuka karena batu bara masih memegang peranan penting dalam bauran energi global seiring meningkatnya kebutuhan energi jangka panjang.
Untuk menghadapi tahun 2026, AADI akan fokus pada tata kelola yang baik, disiplin keuangan, peningkatan produktivitas, dan pengendalian biaya.
“Kami fokus pada aspek biaya dan upaya mencapai volume batu bara yang ditargetkan dengan seefisien mungkin,” ujar Lie Luckman.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memprediksi kinerja AADI pada 2026 cenderung stagnan.
Pemulihan kinerja sangat bergantung pada kebijakan stimulus dari China dan India sebagai konsumen batu bara terbesar.
Wafi menekankan pentingnya strategi *cost leadership* bagi AADI. Produsen dengan ongkos produksi termurah akan menjadi pemenang dalam siklus harga batu bara rendah.
“AADI harus menekan *stripping ratio* dan efisiensi logistik,” imbuhnya.
Diversifikasi negara tujuan ekspor dinilai sulit dilakukan karena pasar batu bara global yang semakin menyempit.
Wafi menyarankan AADI untuk mengunci kontrak penjualan jangka panjang dengan pelanggan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Asia Tenggara yang kebutuhan energinya masih tinggi.
KISI memberikan rekomendasi *trading buy* untuk saham AADI dengan target harga Rp 8.700 per saham.
Pada penutupan perdagangan Senin (22/12), harga saham AADI berada di level Rp 7.050 per saham, terkoreksi 16,81% secara *year to date* (ytd).







