Tutup
Regulasi

Adaro Bertahan: Strategi Hadapi Tekanan Harga Batu Bara

297
×

Adaro Bertahan: Strategi Hadapi Tekanan Harga Batu Bara

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), emiten pertambangan batu bara, berupaya keras mempertahankan kinerja di tengah tantangan industri yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026.

Perusahaan mencatatkan kenaikan produksi batu bara sebesar 1% menjadi 51,49 juta ton hingga kuartal III-2025.

Volume penjualan batu bara juga meningkat 2% menjadi 52,69 juta ton pada periode yang sama.

Namun, pendapatan AADI mengalami penurunan 11% menjadi US$ 3,61 miliar, dan laba bersih menyusut 44% menjadi US$ 655 juta.

Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan harga jual rata-rata (ASP) batu bara di pasar global.

Meskipun demikian, AADI telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 243 juta hingga kuartal III-2025. Dana ini digunakan untuk investasi pembangkit listrik di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, dan sarana pendukung rantai pasok.

Direktur Adaro Andalan Indonesia, Lie Luckman, mengakui adanya tekanan harga sejak awal tahun lalu akibat kelebihan pasokan dan penurunan permintaan musiman.

Namun, ia meyakini bahwa peluang pertumbuhan tetap terbuka karena batu bara masih memegang peranan penting dalam bauran energi global seiring meningkatnya kebutuhan energi jangka panjang.

Untuk menghadapi tahun 2026, AADI akan fokus pada tata kelola yang baik, disiplin keuangan, peningkatan produktivitas, dan pengendalian biaya.

“Kami fokus pada aspek biaya dan upaya mencapai volume batu bara yang ditargetkan dengan seefisien mungkin,” ujar Lie Luckman.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memprediksi kinerja AADI pada 2026 cenderung stagnan.

Pemulihan kinerja sangat bergantung pada kebijakan stimulus dari China dan India sebagai konsumen batu bara terbesar.

Wafi menekankan pentingnya strategi *cost leadership* bagi AADI. Produsen dengan ongkos produksi termurah akan menjadi pemenang dalam siklus harga batu bara rendah.

“AADI harus menekan *stripping ratio* dan efisiensi logistik,” imbuhnya.

Diversifikasi negara tujuan ekspor dinilai sulit dilakukan karena pasar batu bara global yang semakin menyempit.

Wafi menyarankan AADI untuk mengunci kontrak penjualan jangka panjang dengan pelanggan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Asia Tenggara yang kebutuhan energinya masih tinggi.

KISI memberikan rekomendasi *trading buy* untuk saham AADI dengan target harga Rp 8.700 per saham.

Pada penutupan perdagangan Senin (22/12), harga saham AADI berada di level Rp 7.050 per saham, terkoreksi 16,81% secara *year to date* (ytd).

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Berdasarkan data RTI pukul 09.07 WIB, IHSG naik 1,04% atau 79,284 poin ke level 7.702,870. Sebanyak 393 saham menguat, 135 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Baca Juga: Rupiah Dibuka…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Kamis (16/4/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.888.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (15/4/2026) yang berada di level Rp 2.893.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.674.000 per gram. Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…