jakarta – Serangan siber semakin canggih dan mengkhawatirkan. Penipuan online, kebocoran data, dan serangan ransomware meningkat tajam, menargetkan individu hingga bisnis.
hal ini terungkap dalam laporan terbaru ESET Threat Report H2 2025. Laporan tersebut juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan digital.
Serangan siber berbasis AI bukan lagi sekadar ancaman teoritis.
ESET Threat Report H2 2025 mencatat kemunculan PromptLock, ransomware berbasis AI pertama yang diketahui mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis. Data dalam laporan ini mencakup periode juni hingga November 2025.
“Selama ini AI sudah digunakan untuk membuat konten phishing atau scam sehingga makin hari makin tampak meyakinkan,” ujar CTO Prosperita Group, Yudhi Kukuh, Senin (29/12/2025).
“namun, kemunculan ransomware berbasis AI seperti PromptLock menunjukkan arah ancaman yang jauh lebih serius dan ini perlu menjadi alarm,” tambahnya.
Modus penipuan investasi dan scam online juga terus berevolusi.Salah satunya adalah Nomani scam, yang mengalami peningkatan deteksi hingga 62 persen secara tahunan (YoY).
Pelaku kini memanfaatkan deepfake berkualitas tinggi,situs phishing yang dibuat oleh AI,serta iklan digital berumur pendek untuk menghindari deteksi.
Ancaman ransomware juga menunjukkan peningkatan tajam. Jumlah korban ransomware pada 2025 telah melampaui total sepanjang 2024, bahkan sebelum akhir tahun. Proyeksi kenaikannya mencapai 40 persen YoY.
Akira dan Qilin mendominasi model ransomware-as-a-service. Sementara itu,pendatang baru seperti Warlock membawa teknik pengelakan yang lebih canggih.
Yang mengkhawatirkan, ransomware tidak hanya menargetkan perusahaan besar.UKM, institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu menjadi target empuk, terutama yang belum memiliki sistem keamanan berlapis atau kebiasaan digital yang aman.







