Tutup
Regulasi

Strategi & Porsi Ideal: Susun Ulang Portofolio Saham 2026!

201
×

Strategi & Porsi Ideal: Susun Ulang Portofolio Saham 2026!

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Memasuki tahun 2026, investor saham perlu menyusun strategi portofolio yang cermat untuk memaksimalkan keuntungan di tengah potensi risiko pasar. Kinerja pasar saham Indonesia yang positif sepanjang tahun 2025 menjadikan saham sebagai instrumen investasi yang menjanjikan.

Para ahli menyarankan investor untuk menyesuaikan komposisi portofolio saham dengan profil risiko dan target imbal hasil yang ingin dicapai.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, mengungkapkan bahwa porsi ideal investasi saham bergantung pada target *return* investor. Target *return* 10% per tahun, porsi saham cukup 20%-30%.

Namun, jika investor mengincar *return* minimal 15%, maka porsi saham perlu ditingkatkan menjadi 50% atau lebih.

“Investor juga harus siap dengan risikonya. *Return* saham 15% atau lebih itu masih berupa ekspektasi,” kata Budi.

Menurut Budi, saham-saham konglomerasi berpotensi kembali menjadi incaran investor pada tahun 2026. Saham dengan *free float* terbatas atau saham IPO dari grup konglomerat dinilai menarik.

Pertimbangan utamanya bukan hanya faktor fundamental, tetapi juga karena emiten konglomerasi umumnya siap menjadi *liquidity provider*.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyarankan investor konservatif mengalokasikan 20%-35% portofolio ke saham-saham defensif yang rutin membagikan dividen.

Investor moderat dapat mengombinasikan saham defensif dan siklikal dengan porsi saham 40%-60%. Sementara investor agresif dapat mengalokasikan 65%-80% portofolionya ke saham.

Nafan merekomendasikan sejumlah saham dari berbagai sektor, seperti pertambangan, perbankan, energi, telekomunikasi, hingga konsumer. Beberapa di antaranya adalah ADRO, ASSA, AUTO, BBCA, dan lainnya.

Praktisi pasar modal, Raden Bagus Bima, menekankan tiga strategi utama bagi investor saham pada tahun 2026.

Pertama, diversifikasi lintas sektor antara saham defensif, siklikal, dan saham *growth*. Kedua, kombinasikan saham berfundamental kuat dengan saham berpotensi pertumbuhan tinggi. Ketiga, lakukan *rebalancing* portofolio secara berkala.

Raden menyarankan porsi saham 20%-30% untuk investor konservatif, 40%-60% bagi investor moderat, dan 70%-80% untuk investor agresif. Sektor perbankan atau keuangan masih menjadi unggulan pada tahun 2026.

Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga patut dipertimbangkan. Saham-saham konsumer dinilai tetap relevan sebagai penopang portofolio.

Sektor infrastruktur dan utilitas turut menjadi sorotan berkat dukungan belanja pemerintah.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menambahkan bahwa awal tahun dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk *rebalancing* portofolio.

“Tidak masalah masuk ke saham, asalkan likuiditas tetap dijaga,” jelas Eko.

Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio. Keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan tujuan investasi jangka panjang menjadi kunci.