Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren positifnya hingga akhir Januari 2026. Fenomena *January Effect* berpotensi kembali mewarnai pasar modal di awal tahun ini.
Pada awal perdagangan tahun 2026, tepatnya Jumat (2/1/2026), IHSG dibuka menguat 0,39% ke level 8.685. Bahkan, pada penutupan perdagangan, IHSG melesat 1,17% ke level 8.788.
Kinerja positif ini berlanjut pada perdagangan sesi I hari Senin (5/1/2026), di mana IHSG kembali naik 0,65% ke posisi 8.804.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, meyakini IHSG masih memiliki peluang besar untuk mencatatkan kinerja positif di bulan Januari 2026.
Menurutnya, secara historis, awal tahun seringkali diiringi dengan *rebalancing* portofolio dan masuknya dana segar dari investor, baik ritel maupun institusi.
“Kondisi ini membuka peluang akumulasi pada saham-saham yang sebelumnya tertinggal atau memiliki sentimen kuat,” ujarnya.
Beberapa sentimen positif yang mendukung penguatan IHSG di bulan Januari antara lain ekspektasi kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif, potensi pemulihan aliran dana asing, serta valuasi saham-saham *big caps* yang relatif murah secara historis.
“Peluang penguatan akan semakin besar apabila rupiah mulai stabil dan arus dana asing kembali masuk secara konsisten ke pasar saham domestik,” imbuhnya.
Namun demikian, investor juga perlu mewaspadai sejumlah sentimen negatif yang dapat menghambat laju IHSG.
Tekanan dapat datang dari harga komoditas yang mulai melemah, potensi eskalasi ketegangan geopolitik global, serta kondisi rupiah yang masih relatif lemah.
Faktor-faktor ini dapat menjadi penghambat masuknya dana asing dan membuat pergerakan IHSG lebih volatil.
“Meski demikian, selama tekanan eksternal tersebut masih terjaga dan tidak memburuk signifikan, peluang penguatan indeks tetap terbuka,” jelasnya.
Dari sisi sektor, saham-saham perkapalan mulai menarik untuk diperhatikan karena adanya perbaikan momentum dan sentimen di sektor logistik dan distribusi.
Emiten-emiten konglomerasi, khususnya yang terafiliasi grup Bakrie, juga menunjukkan momentum penguatan yang cukup kuat, meskipun pergerakannya cenderung bersifat jangka pendek dan sangat bergantung pada sentimen.
“Untuk sektor yang relatif tertinggal, kesehatan, konsumsi, dan keuangan berpotensi mengalami *rebound* pada Januari seiring rotasi dana ke saham-saham yang valuasinya masih tertinggal,” tuturnya.
Terkait target IHSG 10.000, Ekky menilai level tersebut lebih realistis sebagai target menengah–panjang di sepanjang 2026, bukan di awal tahun.
Level ini sangat mungkin tercapai apabila beberapa prasyarat terpenuhi, antara lain aliran dana asing kembali konsisten, rupiah stabil, suku bunga global benar-benar memasuki fase penurunan, serta pertumbuhan laba korporasi kembali akseleratif pada semester II 2026.
Dengan skenario tersebut, peluang IHSG menuju 10.000 lebih besar terjadi pada paruh kedua tahun 2026, seiring adanya konfirmasi pemulihan ekonomi dan kinerja emiten.
“Tanpa dukungan fundamental dan *inflow* asing yang kuat, level tersebut akan sulit dicapai hanya dengan mengandalkan sentimen musiman semata,” ujarnya.
Ekky pun menyarankan investor untuk mencermati saham HRUM, GGRM, dan MBMA.
“Sementara, opsi *second liner* bisa KIJA yang belum terlalu naik signifikan. Ketiga itu ada momentum,” pungkasnya.







