Jakarta – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) menggebrak pasar modal di awal perdagangan tahun 2026 dengan lonjakan harga yang signifikan. Dalam 15 menit pertama, saham emiten properti ini melonjak 35% dari Rp 50, didukung volume transaksi yang solid.
Kenaikan harga saham DADA bukan sekadar fluktuasi sesaat. Pergerakan yang kuat dan dukungan volume mengindikasikan perubahan persepsi pasar terhadap prospek perusahaan. Investor kini melirik kinerja fundamental DADA yang menunjukkan perbaikan.
Direktur & CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, menyatakan lonjakan ini sejalan dengan akselerasi kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan terakhir menunjukkan laba DADA tumbuh signifikan, bahkan meningkat ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III.
“Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berhasil melakukan akselerasi bisnis secara nyata,” ujar Bayu dalam keterangan resminya, Jumat (9/1/2026).
Bayu menambahkan, pertumbuhan laba yang agresif menjadi sinyal bahwa valuasi lama tidak lagi relevan. Harga saham DADA di level Rp 50 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Hingga September 2025, pendapatan DADA naik 25,69% secara tahunan menjadi Rp 9,05 miliar. Laba bersih DADA tumbuh 415,81% secara tahunan menjadi Rp 855 juta.
Dalam dinamika pasar modal, lonjakan harga saham bisa menjadi reaksi sesaat atau awal perubahan fase. Analis menilai pergerakan DADA lebih mendekati kategori kedua.
Saham yang sebelumnya kurang diperhatikan kini memasuki fase “awakening,” bertransformasi dari saham tidur menjadi saham dengan cerita pertumbuhan (growth story) yang diperhitungkan. Kenaikan 35% dalam waktu singkat menjadi sinyal awal re-rating valuasi.
“Bagi investor jangka menengah hingga panjang, pergerakan seperti ini sering dibaca sebagai sinyal awal penyesuaian valuasi, ketika pasar mulai mengapresiasi prospek dan fundamental yang sebelumnya belum tercermin dalam harga,” jelas Bayu.
Lonjakan tajam harga saham juga mengindikasikan masuknya “smart money,” terutama jika didukung perbaikan kinerja riil. Faktor inilah yang membedakan DADA dari saham berharga rendah lainnya.
Kenaikan laba ratusan persen secara kuartalan menjadi fondasi utama optimisme investor terhadap DADA.
Persepsi pasar terhadap DADA mulai bergeser. Emiten ini tidak lagi dipandang sebagai saham berharga rendah, melainkan perusahaan dengan potensi pertumbuhan.
“Pertanyaan pasar kini bukan lagi mengapa saham ini naik, tetapi sejauh mana proses revaluasi ini akan berlanjut,” kata Bayu.
Di tengah pemulihan sektor properti, DADA berpotensi menjadi contoh transformasi emiten skala kecil yang berhasil menarik perhatian investor melalui perbaikan kinerja dan strategi bisnis adaptif.
Namun, investor perlu mencermati berbagai faktor risiko, termasuk kondisi makroekonomi global, daya beli masyarakat, dan konsistensi kinerja keuangan. Pendekatan selektif dan berbasis fundamental tetap menjadi kunci di tengah potensi volatilitas.
Bayu optimistis saham DADA masih memiliki ruang penguatan jika mampu menjaga momentum kinerja, merealisasikan proyek, dan menghadirkan katalis korporasi yang memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
“Di tengah mulai bangkitnya sektor properti, DADA berpotensi menjadi salah satu emiten yang ikut menikmati momentum pemulihan,” tutup Bayu.







