Regulasi

Cetak laba Rp 855 juta, manajemen Diamond (DADA) klaim kenaikan harga saham wajar

388
×

Cetak laba Rp 855 juta, manajemen Diamond (DADA) klaim kenaikan harga saham wajar

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) menggebrak pasar modal di awal perdagangan tahun 2026 dengan lonjakan harga yang signifikan. Dalam 15 menit pertama, saham emiten properti ini melonjak 35% dari Rp 50, didukung volume transaksi yang solid.

Kenaikan harga saham DADA bukan sekadar fluktuasi sesaat. Pergerakan yang kuat dan dukungan volume mengindikasikan perubahan persepsi pasar terhadap prospek perusahaan. Investor kini melirik kinerja fundamental DADA yang menunjukkan perbaikan.

Direktur & CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, menyatakan lonjakan ini sejalan dengan akselerasi kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan terakhir menunjukkan laba DADA tumbuh signifikan, bahkan meningkat ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III.

“Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berhasil melakukan akselerasi bisnis secara nyata,” ujar Bayu dalam keterangan resminya, Jumat (9/1/2026).

Bayu menambahkan, pertumbuhan laba yang agresif menjadi sinyal bahwa valuasi lama tidak lagi relevan. Harga saham DADA di level Rp 50 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.

Hingga September 2025, pendapatan DADA naik 25,69% secara tahunan menjadi Rp 9,05 miliar. Laba bersih DADA tumbuh 415,81% secara tahunan menjadi Rp 855 juta.

Dalam dinamika pasar modal, lonjakan harga saham bisa menjadi reaksi sesaat atau awal perubahan fase. Analis menilai pergerakan DADA lebih mendekati kategori kedua.

Saham yang sebelumnya kurang diperhatikan kini memasuki fase “awakening,” bertransformasi dari saham tidur menjadi saham dengan cerita pertumbuhan (growth story) yang diperhitungkan. Kenaikan 35% dalam waktu singkat menjadi sinyal awal re-rating valuasi.

“Bagi investor jangka menengah hingga panjang, pergerakan seperti ini sering dibaca sebagai sinyal awal penyesuaian valuasi, ketika pasar mulai mengapresiasi prospek dan fundamental yang sebelumnya belum tercermin dalam harga,” jelas Bayu.

Lonjakan tajam harga saham juga mengindikasikan masuknya “smart money,” terutama jika didukung perbaikan kinerja riil. Faktor inilah yang membedakan DADA dari saham berharga rendah lainnya.

Kenaikan laba ratusan persen secara kuartalan menjadi fondasi utama optimisme investor terhadap DADA.

Persepsi pasar terhadap DADA mulai bergeser. Emiten ini tidak lagi dipandang sebagai saham berharga rendah, melainkan perusahaan dengan potensi pertumbuhan.

“Pertanyaan pasar kini bukan lagi mengapa saham ini naik, tetapi sejauh mana proses revaluasi ini akan berlanjut,” kata Bayu.

Di tengah pemulihan sektor properti, DADA berpotensi menjadi contoh transformasi emiten skala kecil yang berhasil menarik perhatian investor melalui perbaikan kinerja dan strategi bisnis adaptif.

Namun, investor perlu mencermati berbagai faktor risiko, termasuk kondisi makroekonomi global, daya beli masyarakat, dan konsistensi kinerja keuangan. Pendekatan selektif dan berbasis fundamental tetap menjadi kunci di tengah potensi volatilitas.

Bayu optimistis saham DADA masih memiliki ruang penguatan jika mampu menjaga momentum kinerja, merealisasikan proyek, dan menghadirkan katalis korporasi yang memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

“Di tengah mulai bangkitnya sektor properti, DADA berpotensi menjadi salah satu emiten yang ikut menikmati momentum pemulihan,” tutup Bayu.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (2/6/026) setelah mencetak serangkaian rekor tertinggi baru dalam beberapa sesi terakhir. Meski demikian, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penopang sentimen pasar. Baca Juga: Wall Street Terus Catat Rekor, Investasi di Pasar Saham AS Bisa Jadi Opsi Alternatif Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan lebih selektif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan, di pasar obligasi, kenaikan suku bunga kebijakan biasanya menekan harga obligasi lama dan mendorong yield naik. Bagi emiten, kondisi ini berarti biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal. Emiten yang tidak memiliki…