Tutup
EkonomiEmasInvestasiPerbankan

Emas Melemah Saat Konflik Memanas, Dolar AS Menguat?

351
×

Emas Melemah Saat Konflik Memanas, Dolar AS Menguat?

Sebarkan artikel ini
pengamat-ungkap-anomali-harga-emas-saat-perang-timur-tengah-pecah
Pengamat Ungkap Anomali Harga Emas saat Perang Timur Tengah Pecah

Jakarta – Harga emas Antam terpantau melemah di tengah tensi geopolitik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pada perdagangan Rabu (4/3), harga emas Antam turun signifikan, mencapai Rp77 ribu per gram.

saat ini,harga emas Antam berada di level Rp3,045 juta.Kondisi ini dinilai paradoks, mengingat emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven.

Lantas, mengapa harga emas justru melemah di tengah konflik yang berkecamuk?

Direktur Eksekutif Centre of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengungkapkan tiga faktor utama penyebab penurunan harga emas.

pertama, peran safe haven emas beralih ke dolar AS. “Ini terlihat dari indeks dolar AS yang naik 1,2 persen dalam sepekan terakhir, mencapai level 98,8,” jelas Bhima.

Kedua, aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah harga emas sebelumnya mengalami kenaikan. Bhima menilai hal ini wajar karena sebagian investor membeli emas untuk tujuan spekulasi.Ketiga, ekspektasi kenaikan imbal hasil US Treasury (pembelian dolar AS) seiring dengan kenaikan harga minyak, inflasi, dan suku bunga.

Bhima menambahkan, likuiditas menjadi faktor kunci mengapa emas kurang berfungsi sebagai nilai lindung dibandingkan US Treasury dan dolar AS.

“Likuiditas kuncinya. Saat krisis dan perang, memindahkan dolar AS lebih mudah daripada emas batangan. Cash is the key,” tegasnya.Menurut Bhima, investor kini lebih fokus pada upaya bertahan di tengah ketidakpastian, bukan sekadar mencari imbal hasil untuk melindungi inflasi. “Yang dicari bukan sekadar imbal hasil untuk lindungi inflasi. Tapi how to survive,” imbuhnya.

Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, senada dengan Bhima, menilai penurunan harga emas saat ini sebagai koreksi teknikal dan efek penguatan dolar AS.

Namun,Syafruddin menekankan bahwa jika konflik di Timur Tengah terus berlarut-larut,permintaan emas berpotensi meningkat karena investor mencari perlindungan dari risiko geopolitik dan inflasi.

“Misalnya sampai mengganggu jalur energi global, maka secara historis permintaan emas biasanya akan kembali meningkat,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, Syafruddin memproyeksikan bahwa harga emas berpotensi tetap tertekan jika penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury terus berlanjut.

“Hubungannya cukup mekanis, emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, investor global cenderung memindahkan portofolionya ke aset yang memberikan return tetap,” jelasnya.

Meski demikian, Syafruddin meyakini bahwa tekanan terhadap harga emas bersifat siklikal dan jangka pendek.

“Pasar emas sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Jika konflik Iran dengan AS-Israel mengalami eskalasi, misalnya meluas ke kawasan Teluk atau mengganggu jalur distribusi energi global, maka faktor ketidakpastian geopolitik biasanya kembali mendominasi,” pungkas Syafruddin.