Energi

PGN Garap Potensi Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim

49
×

PGN Garap Potensi Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah mengintensifkan pengembangan sumber gas nonkonvensional melalui pemanfaatan Coal Bed Methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Inisiatif ini ditempuh sebagai langkah strategis untuk memperkuat pasokan gas domestik bagi sektor industri dan pembangkit listrik.

Data pemerintah mencatat potensi CBM di wilayah Tanjung Enim mencapai 9,7 triliun kaki kubik (Original Gas in Place/OGIP). Nilai ekonomi dari potensi gas tersebut diperkirakan mencapai US$ 15,4 miliar atau setara dengan Rp 275,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.911 per dolar AS.

PGN menyatakan telah menyiapkan kesiapan teknis dan komersial untuk merealisasikan pemanfaatan gas tersebut. Perusahaan menargetkan penyaluran gas dari CBM akan dimulai secara bertahap mulai dari 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Volume penyaluran tersebut diproyeksikan akan terus meningkat hingga mencapai angka 25 MMSCFD. Selain CBM, PGN juga menjajaki potensi pasokan gas dari biomethane berbasis limbah kelapa sawit serta Synthetic Natural Gas (SNG).

Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menjelaskan bahwa perusahaan akan membangun infrastruktur injection point khusus. Fasilitas ini berfungsi sebagai titik pengumpul gas dari berbagai sumber sebelum dialirkan ke jaringan pipa transmisi yang sudah ada.

Strategi ini dinilai efektif untuk mengintegrasikan gas dari CBM, biomethane, maupun sumber lainnya ke dalam sistem distribusi nasional. Sumatra Selatan dipilih sebagai pusat pengembangan karena memiliki potensi melimpah untuk ketiga jenis sumber gas tersebut.

Sebelumnya, PGN telah merintis kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk memproses hilirisasi batu bara menjadi SNG di lokasi yang sama. Proyek ini memanfaatkan cadangan low-rank coal milik PTBA yang selama ini belum teroptimalkan secara maksimal.

Pemilihan lokasi di Tanjung Enim didasarkan pada kedekatan geografis dengan jaringan pipa transmisi PGN di Pagardewa. Hal ini diharapkan mampu menekan biaya pembangunan infrastruktur pendukung secara signifikan.

Sepanjang tahun 2025, PGN dan PTBA memfokuskan agenda pada penyelesaian studi kelayakan. Fokus kajian meliputi pembangunan fasilitas produksi SNG, pengembangan jaringan pipa, serta penyusunan skema bisnis yang berkelanjutan.

SNG sendiri merupakan gas hasil pengolahan batu bara dengan karakteristik serupa gas bumi. Produk ini diproyeksikan menjadi bahan bakar utama bagi sektor industri, khususnya di wilayah Jawa bagian barat yang tengah mengalami tantangan pasokan.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan kemandirian energi nasional. Pemanfaatan sumber gas domestik tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor gas di masa depan.

PGN terus menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Holding Migas Pertamina. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan proyek berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.