Tutup
EkonomiInvestasiNews

Dalio Memprediksi: Utang AS Meningkat, Kebangkrutan Mengintai?

174
×

Dalio Memprediksi: Utang AS Meningkat, Kebangkrutan Mengintai?

Sebarkan artikel ini
as-di-ambang-krisis!-ray-dalio-ungkap-5-fase-kebangkrutan-negara-akibat-membengkaknya-utang
AS di Ambang Krisis! Ray Dalio Ungkap 5 Fase Kebangkrutan Negara Akibat Membengkaknya Utang

Jakarta – Miliarder Ray Dalio, pendiri bridgewater Associates, memberikan peringatan keras soal potensi kebangkrutan negara akibat utang yang terus membengkak.

Peringatan ini muncul di tengah kondisi utang nasional Amerika Serikat (AS) yang telah menembus angka US$38 triliun atau setara dengan Rp 634.379 triliun per Oktober 2025.

Melalui platform X, Dalio mengajak semua pihak untuk belajar dari sejarah. Negara dengan utang berlebihan, terutama saat ekonomi melemah, berpotensi mempercepat kemerosotan ekonomi dan sosial.

Menurutnya, pemerintah yang terpaksa mencetak uang baru untuk membayar utang akan memicu inflasi dan pelemahan mata uang.

Dampaknya bisa sangat luas, mulai dari penurunan standar hidup, peningkatan ekstremisme politik, hingga konflik sosial-ekonomi akibat perebutan sumber daya.

Dalio merinci lima fase kebangkrutan negara akibat utang berlebihan:

  1. Negara tidak lagi mampu meminjam untuk membayar utang.
  2. Pemerintah mencetak uang baru, memicu inflasi dan pelemahan mata uang.
  3. Standar hidup menurun dan ekstremisme politik meningkat.
  4. Produktivitas terganggu akibat konflik pembagian sumber daya.
  5. Pemimpin populis muncul untuk mengembalikan ketertiban.

Dalio menyebut utang AS yang mencapai 324 persen dari PDB sebagai “tepi jurang keuangan”. Pemerintah AS dinilai terjebak dalam pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan.

“Tahun ini pemerintah akan membelanjakan sekitar US$7 triliun dan akan menerima sekitar US$5 triliun. Jadi, pengeluarannya akan 40 persen lebih banyak daripada yang diterima.Utangnya sekitar enam kali lipat dari jumlah uang yang diterima,” jelas dalio.

Untuk mengatasi krisis ini, Dalio merekomendasikan “solusi 3 persen”.Yaitu, menurunkan rasio defisit terhadap PDB dari 6-7 persen menjadi sekitar 3 persen.

Langkah ini dapat dicapai melalui kombinasi kenaikan pajak 4 persen dan pengurangan belanja pemerintah 4 persen.

“Hal itu tidak akan sepenuhnya tercapai tetapi akan memperbaiki dinamika penawaran-permintaan utang yang akan membantu penurunan suku bunga,” pungkasnya.