Jakarta – Harga emas global mengalami penurunan tajam di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Koreksi ini menjadi yang terburuk dalam 15 tahun terakhir.
Mengutip data CNBC Internasional, Sabtu (21/3/2026), emas mencatat penurunan 9,6 persen sepanjang pekan ini. ini merupakan kerugian mingguan terbesar sejak September 2011.
Padahal, sepanjang tahun 2026, harga emas sempat naik lebih dari 5 persen sebelum konflik di kawasan Teluk Persia memanas.
Saat ini, harga emas berada di level US$4.494,1 atau turun 2,36 persen hingga pukul 17.15 waktu New York, menurut data Gold Price.
Tekanan juga menghantam perak. Harga perak anjlok lebih dari 2 persen ke US$69,66 per ons, level penutupan terendah sejak desember.
Dalam sepekan, perak telah turun lebih dari 14 persen dan mencatat tiga pekan berturut-turut melemah. Sepanjang tahun ini, perak terkoreksi lebih dari 1 persen.
Alih-alih menjadi aset safe haven, emas justru tertekan karena kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Gejolak pasar energi memperparah sentimen investor global. Harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$112 per barel, memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan.
Kondisi ini berdampak luas, mulai dari pasar komoditas hingga bursa saham global.
Indeks saham utama Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite bahkan mendekati koreksi 10 persen dari posisi tertingginya, menandakan tekanan besar di bursa AS, Wall Street.
Analis logam dan pertambangan dari SP Angel, Arthur Parish, mengatakan pergerakan harga emas saat ini didorong oleh transaksi berbasis momentum yang kini berbalik arah.
“pergerakan itu sekarang hampir sepenuhnya terurai dan bahkan turun cukup dalam.Banyak dari ini adalah transaksi berbasis momentum yang kini berbalik arah,” ujarnya.
Parish menambahkan, lonjakan harga emas sebelumnya didorong oleh masuknya investor ritel dan hedge fund yang memanfaatkan tren kenaikan. Namun, dana tersebut kini mulai keluar dari pasar.
“Dana itu tidak terikat pada posisi jangka panjang di emas. Mereka mulai keluar, dan ini mungkin justru diperlukan agar emas bisa naik lagi di fase berikutnya,” jelas Parish.
Sementara itu, Head of Investment BRI wealth Management, Toni Meadows, menilai pergerakan harga emas sangat dipengaruhi permintaan harian dan faktor ketakutan pasar.







