Jakarta – Proyek family office yang digadang-gadang mampu menarik investasi triliunan rupiah, kini memasuki babak baru di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Meski demikian,kelanjutan proyek yang diinisiasi sejak era Presiden Joko Widodo ini masih belum menemui titik terang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Konferensi Pers RAPBN 2026 dan Nota Keuangan di Kantor DJP, Jakarta Selatan, Jumat (15/8), memberikan pernyataan singkat terkait perkembangan proyek ini.
“Terkait family office, masih dalam kajian. Belum ada tindak lanjutnya,” ujarnya.
Airlangga tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai status proyek tersebut, termasuk potensi arahan dari Presiden Prabowo.
Sebelumnya,Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN),Luhut Binsar Pandjaitan,pada Senin (28/7),di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Pusat, menyampaikan optimisme pembentukan family office akan tetap berjalan meski terjadi pergantian pemerintahan.
Luhut berharap proyek ini dapat segera diputuskan oleh Presiden Prabowo pada tahun ini.
“Saya kira masih berjalan (pembentukan family office), kita lagi kejar terus,” kata Luhut.
Luhut, yang pertama kali mengusulkan ide ini saat menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mencontohkan keberhasilan family office di negara-negara lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Abu Dhabi.
Pada masa pemerintahan Jokowi, proyeksi investasi yang diharapkan masuk ke Indonesia melalui family office mencapai US$500 miliar atau setara dengan Rp8.151,95 triliun.







