Tutup
EkonomiInvestasiNews

Harga Minyak Mencekik, Resesi Global Mengintai?

165
×

Harga Minyak Mencekik, Resesi Global Mengintai?

Sebarkan artikel ini
harga-minyak-bisa-tembus-rp2,5-juta-per-barel,-dunia-terancam-resesi!
Harga Minyak Bisa Tembus Rp2,5 Juta per Barel, Dunia Terancam Resesi!

Jakarta – CEO BlackRock, Larry Fink, memberikan peringatan keras soal potensi resesi global. Pemicunya adalah lonjakan harga minyak dunia yang semakin tak terkendali.

Fink menyebut, harga minyak yang sudah mencapai US$150 per barel atau setara Rp2.535.000 (kurs Rp16.900) bisa memicu krisis ekonomi yang lebih dalam. Level harga ini akan berdampak besar pada perekonomian global.

“Kita akan mengalami resesi global,” tegas Fink, seperti dikutip dari Finding Alert, Kamis (26/3/2026).

Menurutnya, risiko ini akan terus berlanjut jika ketegangan geopolitik global tidak segera mereda.

“Bisa terjadi bertahun-tahun harga di atas US$100, mendekati US$150, yang memiliki implikasi besar terhadap ekonomi,” imbuhnya.

Secara historis, lonjakan harga minyak lebih dari 100 persen dari rata-rata lima tahun seringkali menjadi sinyal resesi dalam 12-18 bulan ke depan.

Kondisi serupa pernah terjadi pada krisis minyak 1973 dan 1979, serta menjelang krisis finansial 2008 saat harga minyak mencapai US$147 per barel.

Kenaikan harga minyak berdampak luas ke berbagai sektor. Biaya transportasi naik sekitar 2-3 persen untuk setiap kenaikan US$10 harga minyak.

Industri manufaktur seperti kimia, plastik, dan baja juga menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan. Daya beli masyarakat pun tertekan karena pengeluaran energi meningkat.

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terpukul, dengan biaya bahan bakar mencapai 25-35 persen dari total operasional. Sektor logistik dan industri berat juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi.

Lonjakan harga minyak juga dipicu gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini membuat biaya pengiriman meningkat dan memperketat pasokan global.

Analisis BlackRock menunjukkan, jika harga minyak bertahan di atas US$140 selama lebih dari enam bulan, peluang terjadinya resesi global dapat meningkat signifikan.

Dampak terbesar diperkirakan akan dirasakan negara berkembang yang bergantung pada impor energi. Negara dengan ketergantungan tinggi berisiko mengalami pelemahan mata uang dan tekanan pada neraca perdagangan.