Tutup
Teknologi

Hari Terpendek Sepanjang Sejarah Akan Terjadi Lagi, Apa Dampaknya?

347
×

Hari Terpendek Sepanjang Sejarah Akan Terjadi Lagi, Apa Dampaknya?

Sebarkan artikel ini
hari-terpendek-sepanjang-sejarah-akan-terjadi-lagi,-apa-dampaknya-bagi-manusia?
Hari Terpendek Sepanjang Sejarah Akan Terjadi Lagi, Apa Dampaknya bagi Manusia?

Jakarta – Bumi diprediksi akan mengalami fenomena alam berupa rotasi yang lebih cepat dari biasanya pada musim panas ini. Akibatnya, durasi hari akan menjadi lebih pendek, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Rabu (9/7/2025) saat hari akan berkurang 1,3 milidetik dari rata-rata.

Menurut laporan dari situs timeanddate.com, Sabtu (12/7/2025), fenomena ini tidak hanya terjadi sekali. Pada 22 Juli dan 5 Agustus 2025, durasi hari diperkirakan akan berkurang lagi masing-masing sebesar 1,38 dan 1,52 milidetik.

Lantas, apa yang menyebabkan fenomena hari-hari pendek ini terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan manusia?

normalnya, satu hari di Bumi berlangsung selama 86.400 detik atau 24 jam. Durasi ini adalah waktu yang dibutuhkan planet untuk menyelesaikan satu rotasi penuh pada porosnya. Namun, kecepatan rotasi ini tidak konstan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk posisi Matahari dan Bulan, serta medan gravitasi Bumi.

Pada 9 dan 22 Juli, serta 5 Agustus 2025, Bulan akan berada pada titik terjauhnya dari khatulistiwa. Posisi ini mengubah pengaruh tarikan gravitasinya terhadap rotasi Bumi. Analogi sederhananya, bayangkan Bumi sebagai gasing yang berputar. Jika anda memutar gasing dengan jari di tengah, putarannya tidak akan secepat jika Anda memegangnya dari atas ke bawah.”Hal serupa terjadi pada Bumi. Dengan Bulan yang lebih dekat ke kutub, Bumi mulai berputar lebih cepat, membuat hari-hari kita lebih pendek dari biasanya,” tulis Livescience dalam laporannya.

Sebelumnya, pada tahun 2020, para ilmuwan menemukan bahwa hari-hari di Bumi tiba-tiba menjadi lebih pendek. Bahkan, 19 Juli 2020 tercatat sebagai hari terpendek sejak pencatatan atomik dimulai pada tahun 1960-an. Rekor ini kembali terpecahkan pada 29 Juni 2022, dengan hari yang 1,59 milidetik lebih cepat dari 24 jam biasa. Fluktuasi kecil dalam kecepatan rotasi Bumi menjadi penyebab fenomena ini.

Meskipun periode hari pendek telah terjadi, para ilmuwan memprediksi bahwa hari tercepat dalam satu tahun masih akan datang. Rotasi Bumi biasanya mencapai puncaknya pada pertengahan hingga akhir Juli. Perubahan kecepatan rotasi Bumi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain Ayunan Chandler (Chandler Wobble), yaitu perubahan kecil dalam kemiringan sumbu rotasi Bumi, pergerakan material cair di inti bumi yang memengaruhi distribusi massa planet, serta perubahan iklim dan cuaca yang memengaruhi pergerakan massa air di lautan dan atmosfer.

Meskipun perbedaannya hanya dalam milidetik, fluktuasi ini cukup signifikan untuk menjadi perhatian para ilmuwan. Perubahan kecepatan rotasi Bumi dapat memengaruhi waktu universal terkoordinasi (UTC), yang merupakan standar waktu yang digunakan di seluruh dunia. Jika Bumi terus berputar lebih cepat, mungkin perlu ditambahkan “detik kabisat negatif” (negative leap second) untuk menjaga waktu atom dan waktu astronomi tetap sinkron. Ini akan menjadi kali pertama detik kabisat negatif ditambahkan dalam sejarah.