Tutup
News

IEU CEPA Masuki Tahap Akhir, Rampung September 2025

217
×

IEU CEPA Masuki Tahap Akhir, Rampung September 2025

Sebarkan artikel ini
ieu-cepa-masuki-tahap-akhir,-rampung-september-2025
IEU CEPA Masuki Tahap Akhir, Rampung September 2025

Jakarta – Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-uni Eropa (IEU CEPA) telah mencapai tahap akhir, dengan lebih dari 90 persen substansi perjanjian telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Pada hari Jumat (13/6/2025), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa proses perundingan substansi IEU CEPA telah memasuki tahap akhir.”Hampir seluruh substansi sudah disepakati,” ujarnya di kantornya setelah menerima komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic.

pemerintah menargetkan penyelesaian seluruh penyusunan naskah pada bulan September, bersamaan dengan rencana kunjungan Sefcovic ke Indonesia. “Target ini, dari segi seluruh drafting, diharapkan bisa selesai,” kata Airlangga, seraya menambahkan bahwa saat ini sudah lebih dari 90 persen dan diharapkan tuntas pada bulan September. Ia berharap akan ada notulen atau memorandum yang ditandatangani pada saat itu.

Setelah penandatanganan, proses hukum akan dimulai, yang melibatkan ratifikasi oleh seluruh 27 negara anggota Uni Eropa dan Indonesia, termasuk penerjemahan ke dalam 27 bahasa resmi Uni Eropa. “ini hanya bisa berlaku jika 100 persen negara sudah meratifikasi. Setelah itu baru bisa entry into force,” jelas Airlangga. Pemerintah optimistis proses ratifikasi akan berjalan cepat dan menargetkan IEU CEPA dapat mulai berlaku efektif pada akhir 2026.

Salah satu manfaat utama dari perjanjian ini adalah penghapusan tarif ekspor sejumlah produk Indonesia ke Eropa. Airlangga mencontohkan produk tekstil dan pakaian yang sebelumnya dikenakan tarif 8-12 persen, akan menjadi nol persen. “Jadi itu semua akan turun,” katanya.

Selain itu,komoditas kelapa sawit juga dimasukkan dalam perjanjian,yang sebelumnya sempat dikecualikan dari pembahasan. “Nah sekarang sudah include. Ini sebuah kemajuan.Sawit juga akan diberikan low hanging fruit, baik untuk food grade maupun untuk fuel,” ucapnya.Airlangga menambahkan bahwa hambatan ekspor sawit selama ini lebih terkait pada pemanfaatan sebagai bahan bakar. Namun, Indonesia telah siap dengan teknologi B40 dan sedang mendorong B50. “Apalagi kita lihat Timur Tengah memanas, bukan mendingin. Jadi persiapan-persiapan itu sudah kita lakukan,” tegasnya.

Pemerintah juga menekankan pentingnya pengurangan hambatan non-tarif dan kejelasan standar perdagangan. IEU CEPA memuat satu bab khusus mengenai perdagangan berkelanjutan, termasuk keberlanjutan sawit dan posisi Indonesia terhadap regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR). Pemerintah berharap penguatan mitigasi dapat disepakati bersama.

dengan seluruh capaian tersebut, Airlangga menargetkan ekspor Indonesia ke Uni Eropa bisa meningkat hingga 50 persen dalam tiga tahun mendatang. “Kalau ekspor kita naik 50 persen, itu setara dengan Vietnam ataupun Malaysia tahun ini,” pungkas Airlangga.