Jakarta – Investasi di pasar modal terus diminati masyarakat Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, investor domestik justru semakin aktif berpartisipasi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada penambahan 1,8 juta investor pasar modal hingga 25 Februari 2026.
Pertumbuhan ini mendorong total investor pasar modal Indonesia menjadi 22,88 juta. angka ini meningkat 12,34 persen sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Lonjakan jumlah investor ini berdampak positif pada aktivitas perdagangan saham.
Rata-rata Nilai transaksi harian (RNTH) saham pada Februari 2026 mencapai Rp25,62 triliun.
Angka ini memperpanjang tren transaksi harian di atas Rp20 triliun yang telah berlangsung sejak Agustus 2025.
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan tekanan di pasar saham domestik mulai mereda pada Februari.
Investor ritel masih mendominasi transaksi dengan porsi 53 persen, meski sedikit menurun dari 58 persen pada bulan sebelumnya.
dari sisi aliran dana asing, investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp0,36 triliun pada Februari 2026.
Hal ini berbalik arah dibandingkan Januari 2026 yang mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp9,88 triliun.
meski demikian, OJK tetap mewaspadai potensi volatilitas pasar akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
OJK terus memantau pergerakan pasar dan berkoordinasi dengan Self-Regulatory Institution (SRO) untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.
Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI mengalami apresiasi 0,45 persen (month-to-date/mtd) atau 0,29 persen (ytd) ke level 442,12 per 27 Februari 2026.
Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata mengalami kenaikan sebesar 1,76 bps (mtd) atau 10,04 bps (ytd).
Investor nonresiden di pasar SBN tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp3,35 triliun (mtd).
Sementara itu, di pasar obligasi korporasi, penjualan bersih (net sell) tercatat sebesar Rp0,30 miliar (mtd).
Industri pengelolaan investasi menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika geopolitik.
Nilai asset under management (AUM) mencapai Rp1.115,71 triliun per 26 Februari 2026, naik 1,11 persen (mtd) atau 7 persen (ytd).
Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp726,26 triliun, tumbuh 3,55 persen (mtd) dan 7,54 persen (ytd).
Pertumbuhan NAB ini didorong oleh pembelian bersih (net subscription) reksa dana sebesar Rp16,09 triliun (mtd) atau Rp43,12 triliun (ytd).
Dari sisi penghimpunan dana, korporasi berhasil meraup Rp39,09 triliun hingga 27 Februari 2026 melalui 32 penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk.
Saat ini, terdapat 25 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif mencapai Rp16,83 triliun.







