Tutup
News

Kisah Yisti Yisnika Bangun Brand Lokal Sejak Bangku Kuliah Bersama Shopee

192
×

Kisah Yisti Yisnika Bangun Brand Lokal Sejak Bangku Kuliah Bersama Shopee

Sebarkan artikel ini
kisah-yisti-yisnika-bangun-brand-lokal-sejak-bangku-kuliah-bersama-shopee
Kisah Yisti Yisnika Bangun Brand Lokal Sejak Bangku Kuliah Bersama Shopee

Jakarta – Di tengah sengitnya persaingan di industri mode, generasi muda menunjukkan inovasi yang menjanjikan. Yisti Yisnika (29) membuktikan hal tersebut dengan membangun merek fesyen wanita inklusif, Oclo, yang berawal dari layanan titip beli (jastip) produk UMKM lokal. Dengan konsistensi dan adaptasi terhadap platform digital, Oclo terus berkembang bersama Shopee hingga menjadi merek lokal yang diperhitungkan.Yisti Yisnika,pemilik Oclo,mengungkapkan bahwa membangun bisnis tanpa panduan yang tepat ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. “Keputusan memulai bisnis di usia 19 tahun saat masih kuliah menjadi salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya,” ujarnya. Yisti menceritakan bahwa awalnya ia hanya bermodalkan kuota internet dan koper untuk menawarkan produk titipan melalui usaha jastip. keuntungan dari usaha tersebut kemudian dikumpulkan untuk membangun merek fesyen Oclo,yang resmi berdiri secara daring di Shopee pada tahun 2016. “Kala itu, saya melihat peluang besar dalam menyediakan pakaian anggun dan sopan bagi wanita berusia 16-40 tahun yang kerap kesulitan menemukan referensi busana saat bepergian,” katanya. Yisti menambahkan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil, terbukti dari performa bisnis Oclo yang terus bertumbuh. bahkan, pada kampanye Big ramadan Sale tahun ini, Oclo berhasil mencatat peningkatan pesanan lebih dari empat kali lipat dibandingkan hari biasa.

Berbekal pengalaman dari usaha jastip, Yisti mulai mengenali tren dan produk yang digemari konsumen. Hal ini mendorongnya untuk memproduksi sendiri dan mendirikan merek bernama Oclo, yang dipilih karena dianggap solid, mudah diingat, dan fleksibel untuk ekspansi ke kategori lain. Strategi Oclo berfokus pada adaptasi tren, pemanfaatan media digital, dan produktivitas tinggi. “Hampir tiap minggu kami rilis antara 10 sampai 25 artikel baru. Kami belajar dari fast fashion, tapi tetap menjaga kualitas. Kalau konsumen puas, mereka pasti akan kembali,” jelas Yisti.

Saat ini, Yisti aktif berinovasi dan berkreasi menciptakan berbagai varian produk Oclo, mulai dari blus, hijab, celana, outer, rok, hingga tas, dengan gaya minimalis dan wearable. Setiap desain mempertimbangkan aktivitas dan kenyamanan pelanggan, mulai dari rutinitas kantor hingga acara santai, tanpa mengorbankan gaya. Prinsip tersebut menjadi benang merah dalam setiap koleksi yang dirilis.

Selama membangun Oclo, Yisti menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kapasitas produksi hingga fluktuasi tren. “Dulu saya kerjakan semuanya sendiri dari desain, bungkus paket, kirim barang, sampai handle komplain. Tapi dari situ saya belajar banyak soal prioritas dan efisiensi,” tuturnya.

Kini, oclo telah tumbuh menjadi merek yang dikenal luas dengan tim solid, sistem tertata, dan basis pelanggan yang berkembang secara organik. Oclo mengandalkan konsistensi kualitas dan pelayanan sejak awal. Melalui bisnisnya, Yisti telah membuka lapangan kerja dan memberdayakan lebih dari 90 talenta lokal dalam setiap lini produksi, menjadikan pertumbuhan Oclo selaras dengan kontribusi sosial yang berkelanjutan.

“Melalui Oclo, alhamdulillah saya berhasil membuka lapangan pekerjaan baru, mulai dari tim kreatif, penjahit, produksi, pengemasan, hingga layanan pelanggan. Kedepannya, saya terus berkomitmen memberdayakan talenta lokal, menjadikan pertumbuhan bisnisnya selaras dengan pemberdayaan komunitas di sekitarnya,” imbuh Yisti. Perjalanan Oclo bersama shopee dimulai sejak tahun 2017, ketika Yisti masih kuliah sambil merintis bisnis. Dengan waktu terbatas untuk membalas pesan dan menangani pesanan pelanggan secara manual, Yisti memutuskan untuk memanfaatkan Shopee sebagai platform utama agar operasional bisnisnya lebih efisien. Proses pemesanan yang awalnya bergantung pada percakapan manual beralih ke sistem yang terotomatisasi, memungkinkan pelanggan melakukan pembelian kapan saja tanpa harus menunggu respons.

Oclo juga aktif memanfaatkan fitur-fitur interaktif dari Shopee seperti Shopee Live, Shopee Video, dan Shopee Affiliate Program untuk meningkatkan keterlibatan dengan pelanggan. Siaran langsung melalui Shopee Live secara konsisten digunakan untuk menyapa pembeli, menampilkan detail produk secara interaktif, dan memberikan pengalaman belanja yang lebih personal. Strategi ini terbukti efektif, dengan kontribusi Shopee Live mencapai hingga 35 persen dari total penjualan.

Partisipasi Oclo dalam berbagai kampanye besar Shopee menunjukkan hasil yang signifikan. pada kampanye Shopee 12.12 Birthday Sale 2024, Oclo mencatat lonjakan pesanan hingga tujuh kali lipat dibandingkan hari biasa. Hampir delapan tahun berjualan di Shopee, Oclo mencatatkan hampir 90 persen total penjualan keseluruhan berasal dari platform tersebut.

“Sebagai mitra pertumbuhan yang terus mendampingi UMKM lokal, shopee senantiasa menghadirkan ekosistem yang inklusif dan membawa peluang untuk dimanfaatkan oleh pelaku usaha lokal seperti saya. Di era digital ini, kehadiran shopee memberi harapan dan akses bagi brand lokal untuk terus bertumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Yisti.

Menjelang tahun 2025, yisti mencermati perubahan tren fesyen yang semakin mengarah pada gaya clean look dan fungsional, dengan dominasi warna-warna hangat seperti earth tone dan cokelat mahogany yang netral dan mudah dipadupadankan. Model outfit yang ringkas,nyaman,namun tetap stylish menjadi kebutuhan utama perempuan aktif masa kini. Menjawab tren ini, Oclo telah menyiapkan sejumlah koleksi spesial yang relevan dan adaptif, termasuk produk-produk favorit yang terus diproduksi ulang karena tingginya permintaan.

Perubahan perilaku belanja juga menjadi perhatian penting. Konsumen kini makin responsif terhadap konten visual dan interaktif, serta lebih percaya pada rekomendasi dari sesama pengguna. Oleh karena itu, strategi Oclo di 2025 berfokus pada penguatan ekosistem pemasaran berbasis komunitas. Melalui pendekatan community-driven, Oclo menggandeng lebih banyak content creator dan affiliator untuk menjangkau pasar baru, dengan memanfaatkan Shopee Affiliate Program, serta fitur-fitur interaktif seperti Shopee Live dan Shopee Video. Selain memperkuat lini digital, Oclo juga sedang menyiapkan langkah ekspansi offline dengan rencana pembukaan toko di sekitar Jakarta pada tahun ini. Kepada anak muda yang ingin memulai bisnis, Yisti berpesan bahwa perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil. “Aku tidak punya latar belakang di bidang fashion, awalnya cuma jualan jastip sambil kuliah. semua dijalani dengan belajar dari proses, banyak coba-coba, dan nggak takut buat salah. Yang penting terus konsisten dan terbuka untuk belajar. Tidak harus nunggu segalanya sempurna dulu baru memulai usaha, setiap hasil akan datang seiring waktu kalau kita jalanin dengan hati,” pungkasnya.