Jakarta – Harga minyak mentah dunia menunjukkan tren positif pada perdagangan Selasa (20/1). Kenaikan ini dipicu oleh data ekonomi China yang memberikan sinyal menggembirakan terkait permintaan.
Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap potensi dampak tarif baru yang mungkin diberlakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa juga turut memengaruhi pergerakan harga.
Harga minyak mentah berjangka Brent tercatat naik 19 sen atau 0,3 persen menjadi US$64,13 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah west Texas Intermediate (WTI) AS naik 25 sen atau 0,4 persen menjadi $59,69 per barel.
Data ekonomi China menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada 2025, sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah.
Pengolahan minyak di kilang-kilang China juga mengalami peningkatan sebesar 4,1 persen secara tahunan (yoy). produksi minyak mentah tumbuh 1,5 persen. Keduanya mencatatkan level tertinggi sepanjang masa.
“Minyak Mentah WTI diperdagangkan sedikit lebih tinggi… mendapat dukungan dari data PDB China kuartal keempat 2025 yang lebih baik dari perkiraan,” ujar analis pasar IG, Tony Sycamore, seperti dikutip Reuters.
Sycamore menambahkan bahwa ketahanan ekonomi China, sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia, memberikan dorongan pada sentimen permintaan.
Di sisi lain, pasar juga mencermati ancaman Trump untuk menerapkan tarif tambahan 10 persen mulai 1 Februari kepada negara-negara Eropa yang menentang keinginannya untuk mencaplok Greenland.
tarif tersebut dapat naik menjadi 25 persen pada 1 Juni jika AS gagal mencapai kesepakatan terkait Greenland.
Ancaman tarif Trump ditujukan kepada sejumlah negara Eropa, termasuk denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.
Akibatnya,investor cenderung melepas dolar AS,menyebabkan nilainya turun 0,3 persen terhadap mata uang lainnya.
Sycamore menjelaskan bahwa kurs dolar AS yang lebih lemah membuat kontrak minyak berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Pasar juga terus memantau perkembangan sektor minyak Venezuela, menyusul pernyataan Trump bahwa AS akan mengelola industri tersebut setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.







