Tutup
Regulasi

Net Buy Asing Rp950 Miliar: Saham Apa Saja yang Diborong?

243
×

Net Buy Asing Rp950 Miliar: Saham Apa Saja yang Diborong?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Setelah mencatatkan reli yang cukup panjang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya harus mengakui keunggulan tekanan jual. Pada perdagangan Kamis (8/1/2025), IHSG ditutup melemah, mengakhiri tren positif yang sebelumnya menghiasi pasar modal Indonesia.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG terkoreksi 0,22% atau setara dengan 19,34 poin, sehingga parkir di level 8.925,47.

Pemicu utama pelemahan ini datang dari koreksi yang terjadi di sejumlah sektor. Secara keseluruhan, enam indeks sektoral mengalami penurunan.

Sektor barang baku menjadi kontributor terbesar penurunan dengan koreksi mencapai 3,22%.

Sektor teknologi juga turut tertekan, melemah 1,10%. Diikuti oleh sektor perindustrian yang turun 0,90%, sektor keuangan terkoreksi 0,45%, sektor kesehatan turun tipis 0,14%, dan sektor barang konsumer nonprimer yang melemah 0,09%.

Namun, tidak semua sektor bernasib sama. Beberapa sektor justru mampu mencatatkan penguatan dan menjadi penyeimbang pergerakan IHSG.

Sektor transportasi menjadi bintang dengan kenaikan 1,75%, disusul sektor properti dan real estat yang menguat 1,50%. Sektor infrastruktur juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,43%. Sektor barang konsumer primer bertambah 0,60%, serta sektor energi naik 0,49%.

Aktivitas perdagangan saham hari ini terbilang ramai. Volume transaksi di BEI mencapai 54,78 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 28,45 triliun.

Secara keseluruhan, 302 saham mencatatkan kenaikan, 370 saham mengalami penurunan, dan 138 saham bergerak stagnan.

Menariknya, di tengah koreksi IHSG, investor asing justru melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai yang cukup besar.

Sepanjang perdagangan hari ini, asing membukukan *net buy* jumbo senilai Rp 950,23 miliar di seluruh pasar.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan *net buy* terbesar oleh investor asing pada hari Kamis:

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 614,24 miliar
2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 247,86 miliar
3. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 195,79 miliar
4. PT Astra International Tbk (ASII) Rp 168,44 miliar
5. PT Timah Tbk (TINS) Rp 165,0 miliar
6. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) Rp 149,73 miliar
7. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 123,2 miliar
8. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 52,87 miliar
9. PT Indika Energy Tbk (INDY) Rp 41,8 miliar
10. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 35,46 miliar