Tutup
Regulasi

Saham Big Cap Ungguli Bursa 2025: Dominasi Konglomerat Berlanjut

234
×

Saham Big Cap Ungguli Bursa 2025: Dominasi Konglomerat Berlanjut

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Saham-saham milik konglomerat mendominasi pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025, dengan beberapa emiten mencatatkan lonjakan kapitalisasi pasar yang signifikan. Prajogo Pangestu menjadi konglomerat terkaya dengan kekayaan mencapai US$ 46,1 miliar.

Mayoritas saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diisi oleh emiten yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi besar nasional.

Data *Bloomberg Billionaires Index* menunjukkan kekayaan Prajogo Pangestu melonjak signifikan dibandingkan akhir 2024. Di bursa, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kokoh di puncak kapitalisasi pasar dengan nilai mencapai Rp 1.294,28 triliun, mengungguli PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatat kapitalisasi pasar Rp 992,36 triliun.

Selain BREN, afiliasi Prajogo lainnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga masuk jajaran 10 besar dengan kapitalisasi pasar Rp 607,74 triliun.

Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai ruang kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar tersebut kini tidak lagi seagresif emiten yang masih berada pada fase awal pertumbuhan.

Ia membandingkannya dengan saham PT Chandra Daya Investasi (CDIA) yang meski telah melonjak 552% dari harga penawaran awal, tetap ditopang oleh aksi korporasi, seperti akuisisi PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah Maritim (MIM) senilai Rp 2,68 triliun.

Saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Hapsoro Sukmonohadi (Happy Hapsoro) juga menunjukkan pergerakan agresif sepanjang 2025.

Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyebut sentimen *political connection* pasca transisi pemerintahan, merger, akuisisi, dan ekspansi turut mengerek minat pasar.

Emiten dalam ekosistem Happy Hapsoro, seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), mencatat reli tajam hingga menorehkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai pasar merespons positif langkah konkret perusahaan, terutama yang berkaitan dengan aksi korporasi dan perbaikan kinerja fundamental.

BUVA menjadi contoh menonjol, dengan harga saham melonjak lebih dari 2.500% sepanjang 2025. Kenaikan ini didorong oleh keberhasilan *rights issue* senilai Rp 603,98 miliar serta pembalikan kinerja keuangan, dengan laba bersih mencapai Rp 108,6 miliar pada kuartal III-2025.

Saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Hashim Djojohadikusumo juga mencuri perhatian. Kekayaan adik Presiden Prabowo ini diperkirakan meningkat seiring lonjakan harga saham sepanjang 2025.

Salah satu kontributor utamanya adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang melesat hingga 700% sepanjang tahun lalu.

Grup Bakrie pun kembali menjadi sorotan pasar. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat reli hingga 240% sepanjang 2025 dan diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan pada 2026.