Tutup
News

Tarif Trump Pangkas Defisit, tapi Ancam Ekonomi AS

210
×

Tarif Trump Pangkas Defisit, tapi Ancam Ekonomi AS

Sebarkan artikel ini
tarif-trump-pangkas-defisit,-tapi-ancam-ekonomi-as
Tarif Trump Pangkas Defisit, tapi Ancam Ekonomi AS

Washington – Kantor Anggaran Kongres (CBO) telah merilis analisis yang menyoroti potensi konsekuensi dari rencana tarif yang diusulkan oleh mantan Presiden Donald Trump terhadap perekonomian Amerika Serikat. Laporan yang dirilis pada Rabu (5/6/2025) tersebut memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat mengurangi defisit negara, namun juga menimbulkan dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

CBO memperkirakan bahwa penerapan tarif secara komprehensif akan memangkas defisit Amerika Serikat sebesar 2,8 triliun dolar AS dalam jangka waktu sepuluh tahun. Akan tetapi, analisis tersebut juga memperingatkan bahwa kebijakan ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inflasi. Konsumen amerika diperkirakan akan mengurangi pembelian barang dari negara-negara yang terkena dampak tarif tambahan.Dalam surat yang dikirimkan kepada pimpinan Kongres dari Partai Demokrat,CBO merinci bahwa laju inflasi tahunan rata-rata diperkirakan akan meningkat sebesar 0,4 poin persentase pada tahun 2025 dan 2026 akibat kebijakan tarif ini. CBO mengasumsikan bahwa tarif yang diumumkan melalui perintah eksekutif antara Januari hingga Mei 2025 akan diberlakukan secara permanen.

Kebijakan ini juga menghadapi tantangan hukum. Sebelumnya, pengadilan federal membatalkan tarif besar yang diberlakukan Trump dengan dasar undang-undang kewenangan darurat, namun pengadilan banding mengizinkan pemerintah untuk tetap memungut tarif tersebut selama proses banding berlangsung.

Estimasi CBO mengonfirmasi prediksi model ekonomi lainnya bahwa pengurangan defisit senilai 2,8 triliun dolar AS akan diiringi dengan berkurangnya kekayaan rumah tangga secara keseluruhan. Selain itu, tarif diperkirakan akan menekan produk domestik bruto (PDB) dengan penurunan sekitar 0,06 poin persentase per tahun.

Laporan Anggaran Penn-Wharton pada April lalu memperkirakan bahwa tarif yang diusulkan Trump akan mengurangi PDB jangka panjang hingga 6 persen dan menekan upah sebesar 5 persen. CBO menekankan bahwa estimasi tersebut masih menyimpan ketidakpastian besar, terutama karena pemerintah dapat mengubah kebijakan tarif yang diberlakukan sewaktu-waktu.

Trump kerap mengumumkan perubahan atau penundaan tarif melalui platform media sosialnya. Pada April,ia menyatakan akan menangguhkan sebagian besar tarif selama 90 hari dan menaikkan tarif atas impor dari China hingga 125 persen.

Pekan lalu,Trump juga mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif baja dan aluminium hingga 50 persen. Langkah ini diperkirakan akan menekan dunia usaha dan mendorong harga lebih tinggi bagi konsumen. tarif 50 persen ini mulai berlaku pada Rabu (5/6/2025).

Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada Selasa (4/6/2025) memprediksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan melambat menjadi hanya 1,5 persen pada 2026. Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.