EkonomiInvestasiNews

Gen Z Pilih Soft Saving, Tekanan Ekonomi Jadi Alasan

425
×

Gen Z Pilih Soft Saving, Tekanan Ekonomi Jadi Alasan

Sebarkan artikel ini
soft-saving-jadi-tren-keuangan-baru-di-kalangan-gen-z,-ini-manfaat-dan-risikonya
Soft Saving Jadi Tren Keuangan Baru di Kalangan Gen Z, Ini Manfaat dan Risikonya

Jakarta – Generasi Z kini punya pendekatan baru dalam mengelola keuangan. Di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian karier, mereka memilih “soft saving”.

Alih-alih mengejar kebebasan finansial ekstrem seperti tren FIRE (financial independence, retire early), Gen Z lebih fokus pada kesejahteraan mental, pengalaman hidup, dan kenyamanan saat ini.

Lantas, apa sebenarnya soft saving itu?

Soft saving adalah pendekatan keuangan yang mengutamakan kualitas hidup dan kesejahteraan saat ini daripada menabung agresif untuk jangka panjang.

Menabung tetap penting, tetapi hanya dilakukan dari sisa penghasilan setelah kebutuhan hidup, kesehatan mental, dan kebahagiaan terpenuhi. Konsep ini kontras dengan FIRE yang menuntut pengorbanan besar di masa muda demi pensiun dini.

Kenaikan harga rumah, beban utang pendidikan, dan pasar kerja yang tidak stabil memaksa anak muda mendefinisikan ulang arti “sukses secara finansial”. Menikmati hidup saat ini terasa lebih masuk akal dibanding menabung ketat untuk masa depan yang belum tentu terjangkau.

Survei Intuit 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik dibanding tambahan uang di tabungan.

Jumlah yang sama menyebut kondisi ekonomi saat ini membuat mereka ragu menetapkan tujuan jangka panjang. Bahkan,66 persen mengaku tidak yakin akan pernah memiliki cukup uang untuk pensiun.

Ketidakpastian global juga berperan besar. Survei TIAA tahun 2024 mencatat 48 persen Gen Z terdorong untuk menikmati hidup saat ini akibat tantangan global,lebih tinggi dibanding mereka yang justru termotivasi merencanakan masa depan.

Meski kerap dicap boros, data menunjukkan Gen Z tidak sepenuhnya abai pada keuangan. Sebanyak 84 persen mengaku tetap menyisihkan sebagian gaji setiap bulan, dan 57 persen berusaha mematuhi anggaran.

Namun, biaya hidup yang tinggi, terutama perumahan yang rata-rata menyerap sekitar setengah anggaran bulanan, membuat ruang untuk menabung semakin sempit.