Jakarta – Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan data dalam outlook Moody’s Investors Service (Moody’s) tidak sesuai dengan kondisi perekonomian nasional terkini.
Pernyataan ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Outlook Economic di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026).
“Ada yang offside kelihatannya,” ujar Purbaya.
Menkeu menegaskan sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan penguatan, baik dari sisi pertumbuhan maupun stabilitas sosial-politik.
Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 tercatat 5,39 persen, tertinggi pasca pandemi COVID-19.
Secara tahunan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen, termasuk yang tertinggi di antara negara G20.
Purbaya menilai ini menunjukkan daya tahan ekonomi domestik yang kuat di tengah tekanan global.
Sebelumnya,Moody’s memberikan outlook negatif karena prospek pertumbuhan yang dinilai melambat.
Namun, setelah data pertumbuhan terbaru dirilis, sejumlah lembaga internasional merevisi proyeksi mereka.
dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 4,9 persen menjadi 5,2 persen untuk tahun ini. JP Morgan juga melakukan revisi serupa.
purbaya menambahkan, pemerintah akan mempercepat stimulus ekonomi pada kuartal I-2026 melalui belanja dan perbaikan iklim investasi. tujuannya,mendorong ekspansi dunia usaha.
Dalam APBN 2026, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,4 persen.Namun, pemerintah berupaya mendorong realisasi mendekati 6 persen.
“Jadi,ekspansi ekonomi akan berlangsung terus sampai nanti 2030–2031. Anda nggak usah takut. Kalau investor di pasar modal atau dunia bisnis, cepat-cepat jalankan rencana investasi anda,” katanya.
Purbaya juga menyoroti keuntungan bank di Indonesia yang berasal dari bunga tertinggi di dunia. Ia menegaskan pendapatan bunga bersih bank (Net Interest Margin/NIM) di Indonesia merupakan yang tertinggi secara global.







