Bursa Saham

Prospek Saham Tambang Logam Cerah hingga 2026, Simak Rekomendasi Analis

63
×

Prospek Saham Tambang Logam Cerah hingga 2026, Simak Rekomendasi Analis

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Sektor pertambangan logam diproyeksikan tetap menjadi primadona investasi hingga akhir 2026. Sejumlah analis menilai pemulihan volume produksi, keberlanjutan hilirisasi mineral, serta tingginya harga emas global menjadi pendorong utama kinerja emiten di sektor ini.

Permintaan logam yang krusial bagi transisi energi global turut memperkuat fundamental industri pertambangan dalam negeri. Meski demikian, investor tetap diminta mewaspadai risiko fluktuasi harga komoditas global dan perubahan kebijakan pemerintah.

Perkembangan geopolitik yang memengaruhi biaya energi juga menjadi faktor eksternal yang patut dicermati. Dinamika tersebut dapat memengaruhi margin keuntungan emiten jika tidak dimitigasi dengan efisiensi operasional yang ketat.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu emiten dengan prospek cerah. Transisi dari Batu Hijau Phase 7 ke Phase 8 yang tuntas pada 2025 diprediksi meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Phase 8 yang memiliki cadangan 442 juta ton diperkirakan mampu mendongkrak volume tambang hingga 800 ribu dmt pada 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 79,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Analis memberikan rekomendasi beli untuk saham AMMN dengan target harga Rp 6.500. Efisiensi dari pengupasan lapisan penutup berkadar rendah menjadi kunci utama optimalisasi produksi.

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) juga mencatatkan prospek positif melalui diversifikasi bisnis. Perseroan kini mulai menggarap sektor logam tanah jarang atau Rare Earth Elements (REE).

Langkah strategis ini diperkuat melalui kerja sama pengolahan slag timah dan monasit dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS). Proyek ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan mulai pertengahan 2026.

Saham TINS direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.230. Pengembangan hilirisasi limbah tambang menjadi nilai tambah bagi kinerja jangka panjang perseroan.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turut menunjukkan performa yang menjanjikan melalui proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa. Pabrik ini memiliki keunggulan kompetitif berupa konsumsi sulfur yang 27% lebih rendah dibandingkan fasilitas sejenis.

Kemitraan strategis dengan Huayou diyakini akan memprioritaskan penyelesaian proyek HPAL Pomalaa. Potensi pelonggaran kebijakan pemerintah terkait Harga Patokan Mineral (HPM) juga menjadi sentimen positif bagi INCO.

Saham INCO direkomendasikan beli dengan target harga Rp 9.500. Fokus pada efisiensi biaya produksi menjadi katalis utama bagi daya tarik saham ini.

Sementara itu, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) diproyeksikan mencatat volume penjualan emas hingga 40 ton pada 2026. Harga emas global yang bertahan di atas US$ 3.000 per ons troi akan menopang profitabilitas perusahaan.

Peningkatan volume penjualan bijih nikel seiring persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt) turut memperkuat posisi ANTM. Namun, potensi revisi RKAB di tengah tahun dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata dalam jangka pendek.

Analis merekomendasikan buy on weakness untuk saham ANTM dengan target harga Rp 3.000. Strategi ini diambil untuk meminimalisir risiko fluktuasi harga di pasar komoditas.