Bursa Saham

Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini Jelang Awal Pekan

47
×

Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini Jelang Awal Pekan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (7/10/2026), dengan penguatan tipis sebesar 0,20% atau 11,91 poin ke level 5.924,36. Sebanyak 364 saham mencatatkan kenaikan, sementara 241 saham mengalami pelemahan dan 185 saham lainnya stagnan.

Penguatan IHSG dipicu oleh aksi technical rebound setelah periode koreksi sebelumnya. Selain itu, perbaikan sejumlah sentimen domestik turut memberikan dorongan positif bagi pasar modal tanah air.

Dari dalam negeri, kenaikan cadangan devisa menjadi US$145,6 miliar menjadi katalis utama. Optimisme investor juga didorong oleh ekspektasi rilis data ekonomi nasional yang relatif solid, seperti inflasi dan neraca perdagangan.

Di sisi lain, pasar sempat menyoroti langkah S&P Dow Jones yang memasukkan Indonesia ke dalam watchlist Frontier Market. Namun, dampak dari sentimen ini dinilai terbatas karena investor asing lebih memprioritaskan evaluasi MSCI dan FTSE Russell yang memiliki pengaruh signifikan terhadap aliran dana pasif.

Kondisi eksternal tetap menjadi tantangan utama bagi pergerakan indeks. Notulensi rapat FOMC memperkuat narasi suku bunga tinggi (higher for longer) yang memicu penguatan dolar Amerika Serikat, sehingga menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp18.100 per dolar AS.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini menjaga volatilitas pasar tetap tinggi meskipun IHSG berhasil mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,83%.

Analis menilai, penguatan indeks saat ini belum sepenuhnya didukung oleh peningkatan likuiditas yang kuat. Pasar masih berada dalam fase rebound terbatas yang sangat sensitif terhadap arah kebijakan global.

Menatap perdagangan pekan depan, fokus investor akan tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga komoditas energi. Selain itu, rilis data inflasi Amerika Serikat (US CPI) menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Jika data inflasi AS menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS berpotensi kembali menguat dan menekan rupiah. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memicu aksi beli di pasar saham negara berkembang (emerging markets).

Secara teknikal, IHSG diprediksi bergerak konsolidasi dengan rentang support 5.850–5.880 dan resistance 6.000–6.050. Indeks memerlukan konfirmasi penembusan di area 6.000 untuk melanjutkan tren penguatan yang lebih stabil.

Para analis merekomendasikan investor untuk mencermati beberapa saham pilihan. Saham-saham seperti ARCI, BMRI, TAPG, ELSA, dan PGAS menjadi sorotan dengan target harga yang disesuaikan dengan proyeksi teknikal jangka pendek.

Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan pergerakan harga komoditas global. Strategi perdagangan yang selektif tetap menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar yang masih tinggi.