Bursa Saham

Laba Bersih Adhi Karya (ADHI) Naik Meski Pendapatan Turun di Semester I-2026

17
×

Laba Bersih Adhi Karya (ADHI) Naik Meski Pendapatan Turun di Semester I-2026

Sebarkan artikel ini
Papan nama PT Adhi Karya Tbk di kantor pusat perusahaan
PT Adhi Karya Tbk mencatatkan kenaikan laba bersih pada semester I-2026 meski pendapatan usaha mengalami penurunan.

JAKARTA – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 12,56% secara tahunan menjadi Rp 8,49 miliar pada semester pertama 2026. Namun, capaian laba tersebut berbanding terbalik dengan penurunan pendapatan usaha yang terkoreksi 18,35% menjadi Rp 3,11 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, pendapatan usaha emiten konstruksi pelat merah ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 3,81 triliun. Segmen teknik dan konstruksi menjadi kontributor utama senilai Rp 2,65 triliun.

Penyumbang pendapatan lainnya meliputi segmen properti dan pelayanan sebesar Rp 154,84 miliar, segmen manufaktur Rp 166,46 miliar, serta segmen investasi dan konsesi sebesar Rp 138,43 miliar. Meskipun pendapatan turun, perusahaan berhasil menekan beban pokok pendapatan dari Rp 3,23 triliun menjadi Rp 2,4 triliun.

Efisiensi tersebut mendorong laba bruto ADHI naik 22,26% secara tahunan menjadi Rp 700,42 miliar. Analis menilai kenaikan laba ini mencerminkan fokus perusahaan pada peningkatan kualitas laba melalui efisiensi operasional dan pengendalian biaya.

Kendati laba bersih meningkat, kondisi arus kas perusahaan mengalami tekanan yang signifikan. Per akhir Juni 2026, posisi kas dan setara kas ADHI tercatat sebesar Rp 813,09 miliar, menyusut drastis dari Rp 1,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Tekanan likuiditas ini mendorong manajemen untuk menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 6 Agustus 2026. Agenda rapat tersebut mencakup permohonan persetujuan penundaan pembayaran bunga untuk dua seri obligasi berkelanjutan.

Langkah ini dinilai sebagai upaya manajemen dalam melakukan pengelolaan kewajiban atau liability management agar arus kas tetap terjaga. Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa kualitas laba perusahaan masih terbatas karena laba usaha tercatat turun 67% secara tahunan.

Bisnis inti ADHI saat ini dinilai masih berada di bawah tekanan pasar yang cukup berat. Investor disarankan untuk mencermati hasil RUPO, perbaikan arus kas operasional, dan percepatan pembayaran proyek sebagai katalis utama kinerja ke depan.

Sebagai BUMN strategis, ADHI masih memiliki peluang untuk pulih melalui dukungan proyek infrastruktur pemerintah. Namun, keberhasilan pemulihan kinerja sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menuntaskan restrukturisasi kewajiban.

Risiko gagal bayar dinilai masih terbatas selama restrukturisasi mendapat dukungan dari para pemegang obligasi. Saat ini, pasar cenderung bersikap berhati-hati terhadap saham ADHI hingga adanya perbaikan nyata pada posisi kas dan piutang usaha perusahaan.