Bursa Saham

Daftar Saham Baru Kompas100 dan Rekomendasi Strategi Investasi Investor

10
×

Daftar Saham Baru Kompas100 dan Rekomendasi Strategi Investasi Investor

Sebarkan artikel ini
Layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia resmi mengumumkan daftar terbaru konstituen indeks Kompas100 periode Agustus 2026 hingga Januari 2027.

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan perombakan komposisi konstituen indeks Kompas100 untuk periode efektif 3 Agustus 2026 hingga 29 Januari 2027. Langkah evaluasi rutin ini mencakup pergantian 9 saham yang keluar dan 9 saham pendatang baru dalam indeks tersebut.

Sebanyak 9 emiten yang resmi keluar dari daftar indeks Kompas100 meliputi BREN, BTPS, DSSA, FILM, HMSP, INTP, MTEL, SIDO, dan TCPI. Sebagai gantinya, BEI memasukkan BFIN, BIPI, BNBR, COIN, EMAS, GGRM, LSIP, MINA, dan RMKE ke dalam daftar konstituen.

Periode efektif untuk jumlah saham dalam penghitungan indeks ini ditetapkan berlaku mulai 3 Agustus 2026 hingga 30 Oktober 2026. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga kualitas komposisi indeks di tengah dinamika pasar modal yang menantang.

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai beberapa pendatang baru memiliki fundamental yang cukup kuat. BFIN, EMAS, dan RMKE menjadi saham yang disoroti karena memiliki likuiditas baik serta prospek bisnis yang resilien.

Namun, Budi mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap saham seperti COIN, BNBR, dan BIPI. Menurutnya, emiten-emiten tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut terkait konsistensi kinerja fundamentalnya.

Di sisi lain, saham yang terdepak dari indeks diprediksi akan mengalami tekanan teknikal. Hal ini terjadi akibat penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi yang mengikuti acuan indeks tersebut.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyoroti EMAS sebagai emiten yang menonjol karena statusnya yang telah tercatat ganda atau dual listing di Bursa Efek Hong Kong. Selain itu, LSIP dinilai memiliki katalis positif dari kebijakan B50.

Wafi menekankan bahwa rebalancing indeks ini bertujuan memperbaiki kualitas komposisi, bukan menjadi pemicu utama kenaikan harga saham. Indeks Kompas100 sendiri tercatat mengalami koreksi sebesar 33,05% secara year to date hingga Senin (27/7).

Kinerja indeks nasional saat ini masih berada di bawah tekanan sentimen global. Kondisi pasar Asia yang melemah, dengan indeks Kospi terjun 8% dan Nikkei turun 4% pada Selasa (28/7), turut membayangi sentimen investor domestik.

Pemulihan indeks Kompas100 diperkirakan bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan konsistensi arus modal asing. Selain itu, status Indonesia sebagai emerging market dalam tinjauan MSCI pada November mendatang menjadi faktor penentu krusial.

Sektor perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI dinilai tetap menjadi tulang punggung indeks. Saham-saham sektor komoditas dan konsumer juga diprediksi akan memberikan dukungan kinerja di sisa tahun 2026.

Para ahli menyarankan agar investor tetap fokus pada valuasi dan prospek bisnis perusahaan. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada status keanggotaan indeks semata, melainkan pada kualitas tata kelola emiten.