Tutup
Regulasi

IHSG Konsolidasi Akhir 2025: Analis Beri Rekomendasi Saham!

211
×

IHSG Konsolidasi Akhir 2025: Analis Beri Rekomendasi Saham!

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak cenderung konsolidatif dalam tiga hari perdagangan terakhir tahun 2025, yakni 29-31 Desember, setelah ditutup melemah 0,55% ke level 8.537,91 pada Rabu (24/12/2025).

Minimnya likuiditas dan absennya katalis kuat membuat pasar cenderung bergerak hati-hati menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai periode akhir tahun memang jarang melahirkan tren yang kuat.

“Mayoritas pelaku pasar sudah mengurangi aktivitas transaksi karena libur panjang, sehingga pergerakan IHSG cenderung konsolidatif. Namun peluang penguatan tetap ada, meski bersifat terbatas dan selektif,” ujarnya.

Hendra menjelaskan, potensi kenaikan IHSG lebih tepat disebut sebagai *technical rebound* ketimbang awal tren *bullish* baru.

“Minimnya katalis global dan domestik membuat pasar masih *wait and see*. Kenaikan biasanya dimanfaatkan untuk *sell on strength*, sementara penurunan dimanfaatkan untuk *buy on weakness* dengan porsi terbatas,” katanya.

Dari sisi teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase konsolidasi yang relatif sehat. *Support* kuat IHSG berada di kisaran 8.414–8.500. “Selama *area support* ini mampu dipertahankan, risiko koreksi diperkirakan terbatas,” ujar Hendra.

Sementara itu, *resistance* terdekat berada di area 8.600–8.650. Jika mampu ditembus dan bertahan, peluang penguatan lanjutan secara teknikal akan terbuka, meski tetap dibatasi oleh tipisnya likuiditas.

Rendahnya nilai dan volume transaksi berpotensi meningkatkan volatilitas *intraday*.

“Dengan transaksi yang tipis, pergerakan indeks bisa lebih mudah berfluktuasi meskipun tanpa volume besar. Karena itu, strategi agresif kurang disarankan,” imbuhnya.

Dalam kondisi pasar yang demikian, Hendra menyarankan investor tetap selektif dengan fokus pada saham-saham berlikuiditas tinggi.

BMRI dinilai menarik sebagai *speculative buy* dengan target Rp 5.200, seiring perannya sebagai bank besar yang relatif stabil dan kerap menjadi penopang IHSG.

Selain itu, ANTM juga menarik untuk *spec buy* dengan target Rp3.400, didukung sentimen komoditas dan potensi rotasi sektor.

Untuk saham berisiko lebih tinggi, BULL dinilai menarik untuk *trading* dengan target Rp 430 per saham, meski investor perlu disiplin dalam manajemen risiko mengingat volatilitasnya.

SCMA juga masuk radar sebagai *speculative buy* dengan target Rp400 per saham, memanfaatkan peluang *technical rebound* setelah tekanan yang cukup panjang.

“Secara keseluruhan, sisa perdagangan 2025 lebih tepat dimaknai sebagai fase menjaga posisi dan persiapan menuju 2026, bukan untuk mengejar keuntungan besar.”

“Selama IHSG bertahan di atas *support* kunci dan tidak muncul sentimen negatif mendadak, arah pasar cenderung stabil dengan kecenderungan *sideways* hingga menguat terbatas,” pungkas Hendra.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak tinggi pada Sabtu (10/1/2026). Mengutip situs Logam Mulia, Sabtu (10/1/226), harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.602.000. Harga emas Antam itu melejit Rp 25.000 jika dibandingkan dengan harga pada Jumat (9/1/2026) yang berada di level Rp 2.577.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp…