Tutup
Regulasi

Prospek Saham Sektor Kesehatan 2026: Peluang Investasi Pasca Pertumbuhan 2025

335
×

Prospek Saham Sektor Kesehatan 2026: Peluang Investasi Pasca Pertumbuhan 2025

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Sektor kesehatan mencatatkan pertumbuhan indeks saham yang signifikan sepanjang tahun 2025, melonjak sebesar 43,78%. Penguatan ini terutama didorong oleh performa saham lapis kedua atau *second liner*.

Saham-saham seperti PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) menjadi motor penggerak utama kenaikan tersebut.

Analis Investasi Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, mengungkapkan bahwa kombinasi faktor struktural dari sisi permintaan dan fundamental bisnis emiten menjadi katalis positif bagi sektor kesehatan.

“Saham-saham *healthcare* juga dipandang relatif defensif oleh investor, terutama dalam menghadapi proyeksi pertumbuhan yang lebih moderat di tahun 2026,” ujar Indy.

Memasuki tahun 2026, Indy menilai prospek sektor kesehatan masih menjanjikan, meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan tidak seagresif periode pasca-pandemi Covid-19.

Keberlanjutan belanja kesehatan nasional, ekspansi kapasitas layanan, serta efisiensi operasional emiten akan menjadi faktor kunci penentu kinerja sektor ini.

Namun, investor juga perlu mewaspadai sejumlah risiko, termasuk potensi tekanan biaya operasional, perubahan regulasi, dan dinamika tarif layanan.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa penguatan saham sektor kesehatan pada tahun 2025 lebih banyak dipicu oleh aksi korporasi, isu masuknya investor strategis, dan ekspektasi pasar terhadap perubahan arah bisnis.

“Sebagian emiten *second liner* masih mencatatkan kerugian atau profitabilitas yang belum stabil. Kenaikan harga saham lebih mencerminkan ekspektasi investor terhadap masa depan,” kata Ekky.

Ekky memproyeksikan bahwa meskipun prospek sektor kesehatan tetap positif secara struktural, potensi penguatannya pada tahun 2026 tidak akan seagresif tahun lalu.

Permintaan layanan kesehatan diperkirakan tetap stabil dan defensif. Namun, pasar akan lebih selektif dan menuntut realisasi pertumbuhan laba, efisiensi operasional, dan *return* yang jelas dari belanja modal.

Dengan valuasi yang sudah naik pada sebagian saham kesehatan, risiko koreksi jangka pendek juga perlu diantisipasi.

Ekky menyarankan pendekatan selektif, terutama pada emiten besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yang dinilai memiliki valuasi lebih rasional dan fundamental lebih stabil.

Untuk saham lapis kedua, Ekky menyoroti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebagai saham yang menarik karena konsisten melakukan ekspansi bisnis.

“Volatilitas saham *second liner* cenderung tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga manajemen risiko menjadi penting,” tegas Ekky.

Di sisi lain, Indy menilai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menarik untuk dikoleksi karena didukung fundamental yang solid dan posisi keuangan yang kuat, dengan target harga Rp 2.770 per saham.