Regulasi

Prospek Saham Sektor Kesehatan 2026: Peluang Investasi Pasca Pertumbuhan 2025

730
×

Prospek Saham Sektor Kesehatan 2026: Peluang Investasi Pasca Pertumbuhan 2025

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Sektor kesehatan mencatatkan pertumbuhan indeks saham yang signifikan sepanjang tahun 2025, melonjak sebesar 43,78%. Penguatan ini terutama didorong oleh performa saham lapis kedua atau *second liner*.

Saham-saham seperti PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) menjadi motor penggerak utama kenaikan tersebut.

Analis Investasi Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, mengungkapkan bahwa kombinasi faktor struktural dari sisi permintaan dan fundamental bisnis emiten menjadi katalis positif bagi sektor kesehatan.

“Saham-saham *healthcare* juga dipandang relatif defensif oleh investor, terutama dalam menghadapi proyeksi pertumbuhan yang lebih moderat di tahun 2026,” ujar Indy.

Memasuki tahun 2026, Indy menilai prospek sektor kesehatan masih menjanjikan, meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan tidak seagresif periode pasca-pandemi Covid-19.

Keberlanjutan belanja kesehatan nasional, ekspansi kapasitas layanan, serta efisiensi operasional emiten akan menjadi faktor kunci penentu kinerja sektor ini.

Namun, investor juga perlu mewaspadai sejumlah risiko, termasuk potensi tekanan biaya operasional, perubahan regulasi, dan dinamika tarif layanan.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa penguatan saham sektor kesehatan pada tahun 2025 lebih banyak dipicu oleh aksi korporasi, isu masuknya investor strategis, dan ekspektasi pasar terhadap perubahan arah bisnis.

“Sebagian emiten *second liner* masih mencatatkan kerugian atau profitabilitas yang belum stabil. Kenaikan harga saham lebih mencerminkan ekspektasi investor terhadap masa depan,” kata Ekky.

Ekky memproyeksikan bahwa meskipun prospek sektor kesehatan tetap positif secara struktural, potensi penguatannya pada tahun 2026 tidak akan seagresif tahun lalu.

Permintaan layanan kesehatan diperkirakan tetap stabil dan defensif. Namun, pasar akan lebih selektif dan menuntut realisasi pertumbuhan laba, efisiensi operasional, dan *return* yang jelas dari belanja modal.

Dengan valuasi yang sudah naik pada sebagian saham kesehatan, risiko koreksi jangka pendek juga perlu diantisipasi.

Ekky menyarankan pendekatan selektif, terutama pada emiten besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yang dinilai memiliki valuasi lebih rasional dan fundamental lebih stabil.

Untuk saham lapis kedua, Ekky menyoroti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebagai saham yang menarik karena konsisten melakukan ekspansi bisnis.

“Volatilitas saham *second liner* cenderung tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga manajemen risiko menjadi penting,” tegas Ekky.

Di sisi lain, Indy menilai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menarik untuk dikoleksi karena didukung fundamental yang solid dan posisi keuangan yang kuat, dengan target harga Rp 2.770 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Jakarta.Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada awal Juni 2026. Investor perlu mencermati sejumlah saham berikut yang akan cum dividen mulai hari ini, Rabu 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa 2 Juni 2026 ditutup di level 6.195,43 naik 1,11% atau 68,05 poin secara harian. Kenaikan ini merupakan awal yang positif karena pada Mei 2026, IHSG tertekan hingga turun tajam,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…