Tutup
NewsTeknologiTelekomunikasi

Jurus XLSmart Jaga Sinyal di Tengah Banjir Bali

353
×

Jurus XLSmart Jaga Sinyal di Tengah Banjir Bali

Sebarkan artikel ini
jurus-xlsmart-jaga-sinyal-di-tengah-banjir-bali
Jurus XLSmart Jaga Sinyal di Tengah Banjir Bali

Jakarta – Layanan telekomunikasi di Bali tetap normal meski diterjang banjir bandang sejak 10 September. PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) memastikan jaringan mereka tetap beroperasi.

Operator seluler itu memiliki lebih dari 7.200 Base Transceiver Station (BTS) di seluruh Bali. Sekitar 2.700 BTS berada di area yang paling dekat dengan lokasi banjir, seperti Kabupaten Jembrana, Tabanan, dan Badung.

“Kami berupaya keras menjaga kualitas layanan di area terdampak,” kata Regional Group Head XLSmart East Region Dodik Ariyanto dalam keterangan resminya, Sabtu (13/9/2025).

Dodik menambahkan, layanan telekomunikasi sangat dibutuhkan masyarakat terdampak dan pihak berwenang yang menangani bencana.

Sempat terjadi gangguan pada sebagian BTS akibat terputusnya pasokan listrik. Namun, tim teknis XLSmart sigap mengaktifkan genset dan melakukan perbaikan sehingga layanan dapat segera dipulihkan.

Hingga Jumat (12/9/2025),jaringan XLSmart di Kota Denpasar,Kabupaten Jembrana,Tabanan,dan Badung dilaporkan tetap normal. Pelanggan dan masyarakat dapat kembali menikmati akses telekomunikasi dan data.

seiring dengan pulihnya pasokan listrik, BTS yang sempat terkendala kini kembali beroperasi normal.

Tim teknis XLSmart terus memantau dan mengecek intensif jaringan di lapangan. tujuannya, memastikan jaringan dan layanan tetap berfungsi optimal bagi masyarakat dan pelanggan.

badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, banjir di Bali dipicu oleh Gelombang Ekuatorial Rossby. Fenomena ini memicu hujan lebat yang merata di Bali hingga Nusa Tenggara dan Kalimantan barat daya.

Curah hujan di Stasiun Klimatologi Bali pada 9-10 September mencapai 385 mm per hari, menjadi yang tertinggi di Indonesia pada hari itu.

“Curah hujan ekstrem di Bali ini merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah di wilayah ini,” kata peneliti iklim BMKG Siswanto.