Tutup
Regulasi

Bank Jakarta IPO 2026: Strategi Ekspansi atau Tantangan Pasar?

370
×

Bank Jakarta IPO 2026: Strategi Ekspansi atau Tantangan Pasar?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan Bank Jakarta belum termasuk dalam daftar perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026. Meskipun demikian, BEI membuka peluang bagi seluruh sektor industri, termasuk perbankan, untuk melantai di pasar modal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar tujuh perusahaan yang sedang dalam antrean IPO. “Saat ini di *pipeline* kami masih sekitar tujuh perusahaan. Kami belum ada nama bank tersebut,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

BEI tetap membuka pintu bagi semua sektor industri untuk menjadi emiten, asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Terkait dengan potensi emiten berkapitalisasi besar (*lighthouse*) pada tahun 2025, Nyoman menyebutkan bahwa BEI mencatat ada dua calon *lighthouse* dari sektor infrastruktur dan pertambangan. ” *Lighthouse* yang ada itu dari sektor infrastruktur dan *mining*,” katanya.

*Lighthouse* IPO merupakan emiten dengan nilai besar dan dampak signifikan terhadap pendalaman pasar modal, baik dari sisi kapitalisasi, likuiditas, maupun daya tarik investor. Kehadiran emiten jenis ini diharapkan menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, rencana IPO Bank Jakarta, yang dulunya bernama Bank DKI, telah diumumkan sejak lama. Pada tahun 2024, Plt. Direktur Utama Bank DKI saat itu, Amirul Wicaksono, menyatakan bahwa bank tersebut telah memperoleh izin prinsip IPO pada kuartal I/2023. Namun, pelaksanaan IPO ditunda karena kondisi pasar yang tidak mendukung, terutama terkait dengan tahun politik 2024.

Pada 22 Juni 2025, Bank Jakarta kembali menyampaikan kesiapannya untuk melantai di BEI pada awal tahun 2026, bersamaan dengan peluncuran nama dan logo baru perusahaan.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyatakan bahwa persiapan internal untuk IPO sedang berlangsung. Namun, realisasinya akan sangat bergantung pada kondisi pasar saat itu. “Mungkin awal-awal tahun depan [2026], tapi saya tidak bisa menjanjikan. Pokoknya kalau situasi pasar mendukung, kami siap,” ujarnya.

Dana yang ditargetkan dari IPO diperkirakan mencapai Rp3 triliun, sejalan dengan rencana Bank Jakarta untuk meningkatkan kelasnya dari Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 menjadi KBMI 3.

Rencana target dana dari IPO ini sebenarnya tidak berubah dari tahun sebelumnya. Bank Jakarta sebelumnya dikabarkan tengah merancang IPO dengan estimasi perolehan dana sekitar US$150 juta—US$200 juta, setara dengan Rp2,26 triliun hingga Rp3,01 triliun. Dalam proses menuju IPO, Bank DKI dilaporkan telah bekerja sama dengan PT BCA Sekuritas dan PT CIMB Niaga Sekuritas Indonesia sebagai penasihat.