Tutup
EkonomiInvestasiNews

Menteri Eksekusi Program, Strategi Prabowo Atasi Kemiskinan Bergulir

208
×

Menteri Eksekusi Program, Strategi Prabowo Atasi Kemiskinan Bergulir

Sebarkan artikel ini
adidaya-institute-nilai-menteri-prabowo-jadi-kunci-keberhasilan-atasi-kemiskinan
Adidaya Institute Nilai Menteri Prabowo jadi Kunci Keberhasilan Atasi Kemiskinan

Jakarta – Adidaya Institute menyoroti peran krusial para menteri dalam menyukseskan strategi “Big Bang” dan “Big Push” Presiden Prabowo Subianto untuk menanggulangi kemiskinan.Menurut Manajer Ekonomi Pembangunan Adidaya Institute, Bramastyo B Prastowo, menteri akan menjadi aktor utama dalam pengelolaan sumber daya program-program tersebut.

“Jadi seluruh pembantu Presiden (Menteri) harus paham apa maunya Presiden dalam mengatasi kemiskinan,” ujar Bramastyo, Rabu (11/2/2026).

Eksekusi program menjadi kunci. Tujuh program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kampung Nelayan, adalah paket terintegrasi yang menargetkan akar kemiskinan multidimensi.

Seluruh program prioritas Presiden Prabowo dijalankan dengan strategi “big bang” dan “big push”: cepat, serentak, dan masif secara nasional.

Bramastyo merujuk teori pembangunan “big bang” dan “big push” sebagai strategi reformasi ekonomi dan percepatan kesejahteraan melalui investasi besar-besaran.

Contohnya, program pembangunan 80 ribu gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bertujuan agar buruh bangunan di desa dapat langsung bekerja tanpa harus ke kota.

“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjalankan strategi kebijakan yang dapat dibaca sebagai ‘big bang’ dalam pelaksanaan dan ‘big push’ dalam substansi,” jelasnya.

Negara bergerak cepat, serentak, dan berskala nasional untuk memecahkan masalah mendasar bangsa, namun tetap fokus pada investasi pembangunan manusia dan ekonomi rakyat.

Adidaya Institute menekankan pentingnya kemampuan eksekusi menteri dalam strategi “Big Bang”.Presiden Prabowo cenderung mempertahankan menteri yang mampu mengeksekusi program, meskipun pemahamannya dinilai lemah.

“Dan, kita lihat sendiri, pembantu Presiden yang model begini (hanya melaksanakan pilihan Presiden) tetap dipertahankan oleh Presiden. Kenapa? Karena Presiden butuh orang yang bisa men-delivery pikiran-pikirannya,” pungkasnya.