Tutup
Regulasi

Tanggapan Direksi BRI Terkait Pelemahan Harga Saham BBRI di Pasar

63
×

Tanggapan Direksi BRI Terkait Pelemahan Harga Saham BBRI di Pasar

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Hery Gunardi, angkat bicara merespons pelemahan harga saham BBRI di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat terkoreksi 1,30 persen pada perdagangan Kamis (30/4/2026).

Hery menegaskan bahwa fluktuasi harga saham merupakan dinamika wajar di pasar modal. Ia mengimbau para investor, khususnya yang berorientasi jangka menengah dan panjang, agar tidak terlalu khawatir terhadap pergerakan harian yang dinilai bersifat sementara.

“Anda tidak usah terlalu melihat harga saham naik-turun. Saya sendiri adalah investor jangka menengah dan panjang. Kalau terus dipantau, tekanan darah malah naik dan bisa bikin stres,” ujar Hery dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).

Menurut Hery, investor seharusnya lebih berfokus pada fundamental perusahaan yang tetap solid. Ia menyoroti tingkat imbal hasil dividen (*dividend yield*) BBRI yang dinilai sangat kompetitif, yakni mencapai kisaran 10 hingga 11 persen per tahun.

“Walaupun harga saham sempat tertekan, lihatlah *dividend ratio* kita yang cukup bagus. Mau cari investasi di mana yang memberikan return sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen, sedangkan reksa dana pasar uang di kisaran 5,5 hingga 6 persen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hery menilai pelemahan saham BBRI saat ini murni dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, bukan karena faktor fundamental perusahaan. Ia optimistis saham dengan fundamental kuat akan kembali menguat seiring dengan perbaikan kondisi makroekonomi domestik maupun global.

Di sisi lain, tekanan memang tengah menyelimuti pasar saham domestik secara luas. Pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 121,23 poin atau terkoreksi 1,71 persen ke level 6.979,994.

Dominasi tekanan jual terlihat jelas dengan sebanyak 595 saham melemah, sementara hanya 115 saham yang menguat. Volume transaksi tercatat mencapai 40,96 miliar saham dengan nilai Rp17,54 triliun, mencerminkan sentimen negatif yang cukup masif di lantai bursa.