Bengkulu – Upaya memperkuat hilirisasi kopi nasional kembali menguat melalui Dialog Interaktif Penguatan Hilirisasi Kopi Bengkulu yang digelar Pemerintah Daerah Bengkulu bersama Universitas Bengkulu dan Kementerian PPN/Bappenas, Kamis (23/4/2026).
Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan petani untuk membahas langkah konkret meningkatkan nilai tambah serta daya saing kopi Indonesia.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan itu, di antaranya Menteri Bappenas, Gubernur Bengkulu, Rektor UNIB, Kepala Bank Indonesia Bengkulu, Ketua Dewan Kopi Indonesia, serta direktur PT ALKO Sumatra Kopi. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan keseriusan mendorong transformasi industri kopi di Bengkulu.
Dialog berlangsung interaktif dan melibatkan petani hingga eksportir. Para peserta membahas tantangan riil dalam pengembangan kopi nasional.Salah satu isu utama yang mengemuka adalah penguatan Indikasi Geografis (IG).IG dinilai penting sebagai identitas sekaligus nilai tambah kopi Bengkulu. Selain itu, peserta juga menyoroti lambannya hilirisasi akibat rendahnya konsumsi domestik dan terbatasnya kapasitas produksi.
Tantangan global turut dibahas dalam forum tersebut. Ketidakpastian ekonomi dunia dan dinamika perdagangan dinilai memengaruhi harga kopi. Di sisi lain,pasar global menuntut sertifikasi seperti ISO dan sistem traceability yang jelas.
Dalam forum itu, Koperasi Petani Alam Korintji memperkenalkan Qthink-X, platform traceability berbasis blockchain untuk rantai pasok kopi.
Melalui Qthink-X, seluruh proses produksi terdokumentasi secara transparan. Data mencakup petani, prosesor, roastery, lokasi lahan, hingga distribusi.
Direktur ALKO menegaskan pentingnya transparansi dalam industri kopi modern.
“Pasar global hari ini tidak hanya membeli kopi, tetapi juga membeli kepercayaan. traceability menjadi kunci utama. dengan Qthink-X, kita bisa memastikan transparansi dari hulu ke hilir,” ujarnya.
ALKO juga membuka akses gratis penggunaan platform bagi petani dan koperasi di Bengkulu. Langkah ini bertujuan mempercepat digitalisasi pertanian dan membantu petani memenuhi standar global.
Namun, ALKO menetapkan penggunaan sistem digital sebagai syarat kemitraan. Kebijakan itu dimaksudkan untuk menjaga standar kualitas dan konsistensi data.
Gubernur Bengkulu menyatakan dukungan penuh terhadap hilirisasi dan digitalisasi kopi. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci percepatan ekonomi daerah.
Sementara itu, UNIB menegaskan peran akademisi dalam riset dan inovasi. Kampus itu juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kopi.
Kepala Bank Indonesia Bengkulu menyoroti pentingnya akses pembiayaan dan penguatan kelembagaan petani. Ia menilai integrasi data digital dapat membuka peluang pembiayaan berbasis produksi.
Ketua Dewan Kopi Indonesia, Rusman Heriawan, menekankan peningkatan produktivitas untuk mendongkrak kesejahteraan petani dan devisa ekspor.
Menteri Bappenas, Rachman Pambudi, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut masa depan kopi Indonesia bergantung pada inovasi, digitalisasi, dan penguatan kelembagaan petani.
Forum ini menjadi langkah awal transformasi industri kopi Bengkulu. Pendekatan kolaboratif dan berbasis teknologi diharapkan mampu meningkatkan daya saing kopi di pasar global.







