DEPOK – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,48 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Secara keseluruhan, ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 diprediksi tumbuh di angka 5,15 persen.
Peneliti LPEM UI, Jahen F. Rezki, menjelaskan bahwa pertumbuhan pada kuartal pertama didorong oleh momentum musiman Ramadan dan Lebaran Idulfitri. Faktor ini diperkuat dengan pencairan tunjangan hari raya (THR) yang meningkatkan pendapatan bersih masyarakat.
“Kombinasi faktor musiman tersebut, ditambah dengan efek basis rendah (*low-base effect*) dari pertumbuhan PDB triwulan I 2025 yang sebesar 4,87 persen, membuat ekonomi di awal 2026 tumbuh cukup tinggi,” ujar Jahen dalam laporan Indonesia Economic Outlook Q2-2026.
Meski optimistis di awal tahun, LPEM UI mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam jangka menengah. Ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan dinilai menjadi risiko bagi sektor ekspor serta kepercayaan investor.
Di sisi domestik, tantangan utama muncul dari memburuknya keseimbangan fiskal. Beban subsidi yang tertekan akibat kenaikan harga minyak menjadi salah satu kerentanan yang perlu diwaspadai pemerintah.
LPEM UI menyoroti tiga indikator utama yang akan menentukan stabilitas ekonomi ke depan. Pertama, kemampuan pemerintah dalam merealokasi belanja ke sektor yang lebih produktif. Kedua, ketahanan sektor keuangan dalam menjaga ekspansi kredit tanpa mengorbankan kualitas aset. Ketiga, kemampuan pemerintah dalam menjaga daya beli konsumen di tengah tekanan harga energi.
Jahen menegaskan bahwa tanpa adanya perbaikan yang signifikan pada ketiga aspek tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko tertahan di batas bawah kisaran lima persen. Oleh karena itu, langkah antisipatif sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional.







