Tutup
Regulasi

LPEM UI Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen pada Triwulan I

83
×

LPEM UI Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen pada Triwulan I

Sebarkan artikel ini

DEPOK – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,48 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Secara keseluruhan, ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 diprediksi tumbuh di angka 5,15 persen.

Peneliti LPEM UI, Jahen F. Rezki, menjelaskan bahwa pertumbuhan pada kuartal pertama didorong oleh momentum musiman Ramadan dan Lebaran Idulfitri. Faktor ini diperkuat dengan pencairan tunjangan hari raya (THR) yang meningkatkan pendapatan bersih masyarakat.

“Kombinasi faktor musiman tersebut, ditambah dengan efek basis rendah (*low-base effect*) dari pertumbuhan PDB triwulan I 2025 yang sebesar 4,87 persen, membuat ekonomi di awal 2026 tumbuh cukup tinggi,” ujar Jahen dalam laporan Indonesia Economic Outlook Q2-2026.

Meski optimistis di awal tahun, LPEM UI mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam jangka menengah. Ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan dinilai menjadi risiko bagi sektor ekspor serta kepercayaan investor.

Di sisi domestik, tantangan utama muncul dari memburuknya keseimbangan fiskal. Beban subsidi yang tertekan akibat kenaikan harga minyak menjadi salah satu kerentanan yang perlu diwaspadai pemerintah.

LPEM UI menyoroti tiga indikator utama yang akan menentukan stabilitas ekonomi ke depan. Pertama, kemampuan pemerintah dalam merealokasi belanja ke sektor yang lebih produktif. Kedua, ketahanan sektor keuangan dalam menjaga ekspansi kredit tanpa mengorbankan kualitas aset. Ketiga, kemampuan pemerintah dalam menjaga daya beli konsumen di tengah tekanan harga energi.

Jahen menegaskan bahwa tanpa adanya perbaikan yang signifikan pada ketiga aspek tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko tertahan di batas bawah kisaran lima persen. Oleh karena itu, langkah antisipatif sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional.

Regulasi

Hingga penghujung bulan April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan laju koreksi yang cukup tajam hingga menembus 13,8% secara Year-to-Date (YTD). Bagi sebagian pihak yang baru terjun ke pasar modal, angka ini mungkin terlihat sangat mengkhawatirkan karena menjadi salah satu persentase penurunan terdalam dalam kurun waktu 72 bulan te…

Regulasi

Meskipun fluktuasi minyak global dan tensi dagang memanas, keamanan berinvestasi di saham terletak pada kekuatan domestik. Lebih dari 20 juta investor di pasar modal menunjukkan tingginya kepercayaan publik pada aset lokal. Walau IHSG sempat terkoreksi, pasar tetap likuid dengan transaksi harian mencapai lebih dari Rp20 triliun. Ini menandakan pasa…