Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menilai algoritma media sosial menjadi ancaman nyata bagi anak karena dapat membuka akses ke konten berbahaya, eksploitasi digital, hingga aktivitas ilegal.
Di balik tampilan media sosial yang terasa semakin personal, ada sistem algoritma yang bekerja mengatur konten yang muncul di layar pengguna setiap saat. Bagi anak-anak, mekanisme ini bukan sekadar teknologi, melainkan jalur yang dapat membuka akses ke berbagai konten tanpa batas yang jelas.
Algoritma dirancang untuk membaca kebiasaan pengguna, mulai dari apa yang ditonton hingga seberapa lama mereka berinteraksi.Dari situ,sistem akan terus menyajikan konten serupa agar pengguna bertahan lebih lama di dalam platform.
Dalam konteks anak-anak, pola tersebut bisa memicu rasa penasaran yang terus berkembang tanpa disadari. Konten yang awalnya sederhana dapat berkembang menjadi semakin kompleks karena terus direkomendasikan secara berulang.
Arifah Fauzi menilai kondisi ini perlu mendapat perhatian serius.
“Ancaman yang terlihat jelas adalah paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, hingga aktivitas ilegal yang membahayakan anak,” ujarnya dalam acara diskusi FMB9 yang digelar belum lama ini.
Ia juga menyoroti bagaimana algoritma dapat memperkuat ketertarikan anak terhadap konten tertentu.
“Sering kali anak membuka media sosial, lalu muncul konten yang tidak tepat. Karena terus muncul, akhirnya memicu rasa penasaran dan membuat mereka terus mengaksesnya,” kata Arifah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa paparan konten tidak selalu terjadi karena pilihan aktif pengguna. Dalam banyak kasus, anak justru mengikuti alur yang dibentuk oleh sistem rekomendasi tanpa memahami konsekuensinya.
kondisi tersebut diperparah dengan tingginya intensitas penggunaan internet oleh anak di Indonesia. Waktu akses yang panjang membuat kemungkinan terpapar konten berisiko menjadi semakin besar dari hari ke hari.
komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kawiyan, menilai ruang digital memang memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.
“Ruang digital memberikan manfaat, tetapi juga membawa risiko yang tidak kecil bagi anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai kasus yang muncul di ranah digital semakin beragam dan kompleks.
“Mulai dari perundungan siber, kecanduan gim daring, hingga paparan pornografi, semuanya menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama,” kata Kawiyan.
Melihat kondisi tersebut, upaya perlindungan tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Regulasi, pengawasan platform, hingga peran orang tua dan lingkungan menjadi faktor penting yang harus berjalan beriringan.







