Jakarta – Harga minyak dunia kembali meroket dan menembus level psikologis US$100 per barel setelah baku tembak antara Amerika Serikat dan Iran pecah di Selat Hormuz. Ketegangan di jalur distribusi energi paling penting di dunia itu langsung mengguncang pasar dan memicu kekhawatiran baru atas gangguan pasokan global.
Patokan utama minyak internasional, Brent, melesat hingga 7,5 persen dalam perdagangan yang bergejolak pada kamis waktu setempat. di tengah aksi jual-beli yang liar, harga sempat menyentuh US$103,70 per barel sebelum terkoreksi tipis saat perdagangan Asia dibuka pada Jumat pagi, 8 Mei 2026.
Pada pukul 03.00 GMT, Brent masih bertahan di US$101,12 per barel.Harga itu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum konflik kembali memanas.
Kenaikan tajam ini terjadi setelah Komando Pusat militer Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan telah melancarkan serangan balasan ke Iran. Langkah tersebut ditempuh usai tiga kapal perusak rudal Angkatan Laut AS diserang dengan rudal, drone, dan kapal kecil milik Iran di kawasan selat itu.
Dari pihak Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya menuduh Amerika Serikat lebih dulu melanggar gencatan senjata. Mereka menyebut Washington menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran dan satu kapal lain di sekitar perairan Selat Hormuz. Militer Iran juga menuduh AS menyasar wilayah sipil, termasuk Pulau Qeshm yang berada dekat jalur pelayaran vital tersebut.
Presiden AS donald Trump kemudian mencoba meredakan kepanikan pasar dengan mengatakan gencatan senjata masih berlaku.Sementara itu, media pemerintah iran, press TV, melaporkan situasi di kawasan itu telah “kembali normal”.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya tenang. Aktivitas pengiriman minyak di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti sejak akhir Februari 2026 setelah Iran mengancam kapal tanker raksasa yang mengangkut porsi besar kebutuhan energi dunia. Kondisi ini memperburuk sentimen pelaku pasar yang khawatir gangguan pasokan akan meluas.
Secara keseluruhan, harga Brent kini telah naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang pecah. Kenaikan itu berkaitan dengan perkiraan defisit produksi minyak harian yang mencapai 14,5 juta barel.







